9 Fakta soal Al-Aqsa dan Konfliknya yang Perlu Kamu Tahu

Berdasarkan informasi dari kumparan, kekerasan kembali terjadi di Masjidil Aqsa, Yerusalem, dalam sepekan terakhir. Bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina memakan korban jiwa, aroma ketegangan merebak hingga ke seluruh dunia.

Ini bukan kali pertama peristiwa serupa terjadi di Kota Tua Yerusalem. Setidaknya setahun sekali ada kehebohan di wilayah ini. Pekan ini, bentrokan terjadi karena tentara Israel menutup akses ke Masjidil Aqsa, menuai protes dari umat Islam Palestina.

Tidak banyak dari kita yang paham soal apa yang terjadi di Masjid al-Aqsa. Berikut rangkuman kumparan mengenai 9 hal soal Al-Aqsa dan konflik yang menyelimutinya:

  1. Situs Suci Tiga Agama

Kota Tua Yerusalem hanya seluas kurang dari 1 km persegi, tapi mencakup banyak situs suci dari tiga agama: Islam, Yahudi, dan Kristen.

Bagi umat Islam, Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama dan masjid suci ketiga terbesar setelah Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Bagi umat Kristen, di tempat itu Yesus disalib dan dibangkitkan. Sementara bagi umat Yahudi, Kota Tua Yerusalem adalah tempat paling suci, situs bekas kerajaan Israel dan kuil-kuil Yahudi.

  1. Tidak Hanya Satu Masjid

Tidak seperti yang diyakini banyak orang, Masjidil Aqsa bukanlah masjid berkubah emas.

Masjidil Aqsa adalah sebuah kompleks di Kota Tua Yerusalem yang mencakup Kubah Batu (Dome of Rock) yang berkubah emas, Masjid Qibly, Masjid Buraq, dan Masjid Marwani. Masjid Qibly yang biasa disebut Masjid al-Aqsa karena paling dekat dengan kiblat di Kabah, Mekah.

Kompleks masjid-masjid ini dinamakan Masjidil Aqsa atau Haram al-Sharif.

  1. Kubah Pertama di Dunia

Dome of Rock disebut sebagai kubah pertama yang dibangun di dunia. Bangunan itu didirikan di masa Kekhalifahan Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Marwan. Awalnya kubahnya tidak berwarna emas, melainkan kayu yang dilapis kuningan, atau keramik. 1.000 tahun kemudian di Kekhalifahan Ottoman lapisan emas baru ditambahkan.

Di dalamnya terdapat batu yang diyakini tempat Nabi Muhammad bertolak ke langit dalam peristiwa Isra Miraj. Bagi umat Yahudi, batu itu juga diyakini tempat Nabi Ibrahim akan mengorbankan putranya, Ismail.

  1. Jadi Tempat Sampah

Romawi menjadi kompleks Masjidil Aqsa sebagai tempat penimbunan sampah. Kala itu, umat Yahudi diusir dari Yerusalem. Barulah ketika Yerusalem dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab, sampah dibersihkan oleh tangan Umar sendiri.

Umar juga memperbolehkan kembali Yahudi masuk Yerusalem yang telah terusir selama satu abad.

  1. Pernah Dibakar dan Dihancurkan

Beberapa kali masjid-masjid di Masjidil Aqsa dihancurkan lalu dibangun lagi karena peperangan, invasi, atau bencana.

Tahun 700-an, masjid Al-Aqsa hancur karena gempa bumi di Yerusalem. Pada pendudukan Israel tahun 1967, kerusakan terjadi akibat kekerasan zionis.

Tahun 1969, warga Australia Denis Michael Rohan membakar mimbar Al-Aqsa. Tahun 1982, Alan Goodman, tentara Amerika-Israel beragama Yahudi, menembaki jemaah di Al-Aqsa, menewaskan dua orang dan melukai 11 orang.

Kini ancaman kehancuran Masjidil Aqsa dari tentara Israel yang kerap merusak dalam bentrokan. Israel juga melakukan ekskavasi dan penggalian di situs-situs suci, merusak pondasi masjid.

  1. Saksi Pembantaian Ribuan Muslim

Masjidil Aqsa menjadi saksi pembantaian ribuan umat Islam dalam invasi Tentara Salib tahun 1099.

Ketika Tentara Salib memasuki Yerusalem, ribuan umat Islam berlindung di Masjidil Aqsa. Sekitar 70 ribu umat Islam dibantai saat itu. Masjidil Aqsa kemudian diubah menjadi istana, Dome of Rock jadi gereja, dan ruang bawah tanah masjid jadi kandang kuda.

Muslim yang selamat dari pembantaian pertama kemudian disalib. Barulah setelah 88 tahun, tentara Islam pimpinan Salahudin al Ayubbi berhasil membebaskan Yerusalem.

  1. Pencaplokan Yerusalem oleh Israel

Penguasa Yerusalem berganti-ganti. Dalam 100 tahun terakhir wilayah ini dikuasai Kekhalifahan Ottoman, Inggris, lalu penguasaan bersama Yordania dan Israel sejak 1967, hingga saat ini diklaim oleh Israel.

Penguasaan Yerusalem, termasuk Masjidil Aqsa di dalamnya, diawali pencaplokan Yerusalem Timur yang mayoritas populasinya Muslim Palestina oleh Israel dalam Perang Enam Hari. Dewan Keamanan PBB melalui resolusi nomor 478 mengecam pencaplokan Yerusalem Timur dan menganggapnya pelanggaran hukum internasional.

Tahun 1980, parlemen Israel, Knesset, mengklaim telah menyatukan Yerusalem dan menyatakannya sebagai ibukota. Komunitas internasional, termasuk sekutu mereka Amerika Serikat, tidak mengakui klaim Israel dan tetap menganggap ibu kota Israel, Tel Aviv.

  1. Pemantik Konflik di Masjidil Aqsa

Kebanyakan bentrokan dan konflik di Masjidil Aqsa terjadi akibat pembatasan akses masuk bagi Muslim Palestina oleh tentara Israel. Namun beberapa konflik disebabkan karena Israel melanggar perjanjian tahun 1967 soal kunjungan umat Yahudi ke Masjidil Aqsa.

Berdasarkan tradisi setelah pencaplokan Yerusalem Timur oleh Israel, umat Yahudi dilarang beribadah di Masjidil Aqsa. Mereka boleh datang di antara waktu salat, tapi hanya berkunjung, bukan beribadah. Perjanjian ini banyak dilanggar oleh Israel, terutama di hari-hari raya Yahudi.

Pada tahun 2015, umat Islam Palestina marah ketika pemerintah Israel memasukkan banyak umat Yahudi untuk beribadah di Masjidil Aqsa. Sedikinya 28 warga Palestina tewas dan ratusan terluka dalam bentrok dengan tentara Israel.

  1. Kehidupan Sehari-hari

Warga Palestina di wilayah caplokan Israel di Yerusalem mengalami diskriminasi. Berbeda dengan warga Yahudi yang berstatus penduduk, Muslim dan Kristen Palestina mendapat kartu identitas khusus bertuliskan “penduduk tetap”. Hak-hak mereka berbeda dengan warga Yahudi dan dilarang terlibat politik.

Namun di masa damai, kehidupan sehari-hari kedua penduduk di Yerusalem Timur dan Yerusalem Barat saling melengkapi. Warga Yahudi Israel di barat kerap berbelanja ke timur yang harganya lebih murah. Warga Palestina juga ada yang kuliah di Hewbrew University. Walau ada rumah sakit di Palestina, namun operasi besar kebanyakan dilakukan di rumah sakit utama Israel.

Beberapa orang Palestina juga sering terlihat di restoran-restoran di Yerusalem Barat. Sementara kelompok Israel liberal sering menyambangi Yerusalem Timur untuk menginap di Jerusalem Hotel atau American Colony Hotel. Restoran-restoran hummus warga Palestina bahkan jadi favorit bagi warga Israel.