Abu Ubaidah Bin Jarrah: Sang Pemegang Kepercayaan

Abu Ubaidah Bin Jarrah – Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys, kemudian dikenal sebagai Abu Ubaidah Bin Jarrah. Is sosok pemalu dan lembut, tapi dalam menyelesaikan setiap urusan, Abu Ubaidah adalah orang yang cekatan bagai serigala jantan.

Abu Ubaidah merupakan orang yang disabdakan Rosulullah,
“Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Orang Kepercayaan Rosulullah

tadaburtera.blogspot.com
tadaburtera.blogspot.com

Dialah utusan Rosulullah dalam perang Dzatus-Salasih sebagai komandan pasukan untuk membantu Amr Bin Ash. Ketika itu Abu Bakar dan Umar posisinya sebagai prajurit. Dialah generasi sahabat pertama kali yang mendapat julukan panglima perang.

Bahkan dalam suatu riwayat, Umar pernah mengatakan, “Andai Abu Ubaidah Bin Jarrah masih hidup, aku akan mengangkatnya sebagai penggantiku. Jika nanti Allah menanyakannya, aku akan menjawab, “Aku mengangkat orang kepercayaan Allah dan Rosul-Nya.”Dialah Abu Ubaidan Bin Jarrah.

Perawakan tinggi, kurus, berjenggot tipis, dan wajahnya berurat. Ia masuk islam melalui dakwah Abu Bakar. Sejak ia memutuskan untuk masuk islam dan bersumpah setia pada agama dan Rosulullah, maka ia rela melakukan apapun.

Perjuangan dalam Peperangan

pancaranislam.wordpress.com
pancaranislam.wordpress.com

Abu Ubaidah Bin Jarrah ikut hijrah ke Habasyah pada gelombang kedua. Ia juga turut serta dalam Perang Badar, perang Uhud, dan peperangan lainnya. Ketika Perang Uhud berlangsung, saat nyawa Rosulullah dalam incaran para musuh, Abu Ubaidah memutuskan untuk terus berada di dekat Rosulullah.

Ia tebaskan pedang pada siapa saja yang berusaha mendekat. jika ada bahaya yang mendekati Rosulullah, ia melompat dan menghabisi semua. Bagai singa yang sedang diusik. Suatu ketika saat pertempuran berkecamuk, ia terpisah dan nyaris kehilangan Rosulullah.

Namun mata elangnya mampu melihat di mana pun posisi Rosulullah saat itu, sehingga ketika ada anak panah yang nyaris mengenai Rosulullah, pedang Abu Udaidah segera melayang dan menebasnya, lalu dengan cepat ia melompat ke arah Rosulullah. Ia melihat wajah Rosulullah ketika itu terluka.

Abu Udaidah pun mengusap darah yang mengalir di wajah Rosulullah seraya berkata, “Bagaimana mungkin bahagia suatu kaum yang mengotori wajah Nabi mereka, padahal Nabi itu menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka.” (Baca Juga: Bilal Bin Rabah: Muazzin Pertama Rasulullah)

Kebesaran Hati Abu Ubaidah

www.rumahzakat.org
www.rumahzakat.org

Rosulullah mengutus Abu Ubaidah Bin Jarrah untuk memimpin pasukan dalam perang Khabat, yang ketika itu jumlah pasukan sebanyak 315 orang. Tidak ada bekal yang cukup dalam perang tersebut, hanya sekeranjang kurma. Padahal perjalanan yang harus ditempuh sangat jauh, dan tugas pun tak kalah berat.

Namun Abu Ubaidah menerima tugas tersebut dengan bahagia dan ikhlas. Mereka tidak lagi peduli dengan lapar, meskipun jatah kurma per orang dalam sehari hanya segenggan atau bahkan hanya sebutir saat persediaan mulai menipis. Abu Ubaidah menjadi panglima besar di Syam. Wilayah Islam juga semakin luas.

Saat begitu banyak orang membanggakan kebesaran, kejujuran, dan terpesona atas kemampuannya, maka Ubu Ubaidah pun mengatakan,“Wahai saudara-saudaraku. Aku ini orang muslim dari suku Quraisy. Siapapun dari kalian, berkulit hitam atau merah, yang lebih bertakwa daripada aku, maka ia lebih terhormat dariku.”

Bagi Abu Ubaidah, apapun posisi besar yang dielu-elukan banyak orang, baginya tidaklah penting, karena yang terpenting adalah posisi ia di hadapan Allah. Kebesaran dan ketulusan hatinya nampak jelas saat Umar mengalihkan posisi panglima perang dari Khalid Bin Walid padanya.

Ketika itu Umar mengeluarkan perintah pengangkatan Abu Ubaidah menggantikan Khalid Bin Walid. Namun Abu Ubaidah menyimpan berita tersebut hingga perang usai, dan Khalid menuntaskan tugasnya sebagai panglima yang membawa kemenangan.

Barulah setelah itu Abu Ubaidah memberikan surat peritah dari Khalifah pada Khalid Bin Walid. Ia memberikan penuh dengan rasa hormat. Khalid bertanya, “Wahai Abu Ubaidah. Mengapa tidak kau sampaikan pada saat engkau menerima surat ini?”Abu Ubaidah menjawab, “Aku tidak ingin menghentikan peperanganmu. Bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan untuk dunia kita berbuat. Kita semua adalah saudara yang memperjuangkan agama Allah.”

Akhir Perjuangan

www.youtube.com
www.youtube.com

Abu Ubaidah meninggalkan perjuangan besarnya di wilayah yang sudah ia bersihkan dari keberhalaan dan penindasan Romawi. Di tanah Yordania, Abu Ubaidah dimakamkan.

Video Abu Ubaidah Bin Jarrah