Ali Bin Abi Thalib: Sang Pemilik Gerbang Ilmu

Ali Bin Abi Thalib – Namanya menjadi lebih terkenal setelah kisah cintanya bersama sang istri Fatimah mendunia. Tentu saja, Ali adalah sosok lelaki dambaan perempuan lantaran bribadi dan perjuangannya yang luar biasa. Ia mendadak menjadi populer di kalangan muslimah modern.

Lalu Siapakah Ali?

awyimam.blogspot.com
awyimam.blogspot.com

Ali Bin Abi Thalib adalah anak dari Abu Muthalib dan Fathiman binti As’ad. Secara kekerabatan Ali adalah saudara sepupu Nabi Muhammad. Hal ini karena ayah ali –Abu Muthalib– adalah paman nabi. Ali termasuk sahabat yang setia melindungi nabi. Pedang Zulfikar yang ia miliki siap menebas siapa saja yang bermaksud mencelakai nabi. Di medan jihad ia bak pemburu, sedang dalam kehidupan biasa ia adalah sosok lembut, tegas namun jujur.

Kepribadian dan keberaniannya yang mengantarkan Ali menduduki kursi kekhalifahan setelah Utsman Bin Affan. Tak hanya itu, kepribadian luar biasa itu ternyata mampu membuat putri sang nabi jatuh hati secara diam-diam. Kisahnya menjadi amat terkenal di abad modern.

Kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib

muslimtoleran.com
muslimtoleran.com

Ali dibai’at oleh penduduk Madinah setelah Khalifah Utsman Bin Affan terbunuh ditangan pemberontak. Awalnya Ali menolak pem-bai’at-an tersebut, lantaran kondisi yang belum kondusif dan masih terjadi ketegangan politik. Apalagi ada sebagian kelompok yang memilih netral. (Baca Juga: Abu Ubaidah Bin Jarrah: Sang Pemegang Kepercayaan)

Namun pada akhirnya Ali menerima setelah sebagian sahabat terus mendesaknya. Langkah pertama yang dilakukan Ali adalah mengganti seluruh jabatan gubernur yang hampir seluruhnya dikuasai oleh keluarga Umaiyyah. Para gubernur ini menuntut Ali habis-habisan untuk mengadili kematian Utsman. Namun Ali tetap pada pendiriannya untuk meredakan suasana dulu. Kondisi ini mempersulit Ali dalam menjalankan roda pemerintahan.

Perpecahan Hingga Perang Antar-Muslimin

id.wikipedia.org
id.wikipedia.org

Tak hanya keluarga Umayyah yang melakukan tuntutan atas kematian Utsman. Bahkan Aisyah, Zubair dan Thalhah juga mengingikan agar kasus terbunuhnya Utsman segera diangani. Kondisi yang serba gelap membuat Aisyah memilih meninggalkan Madinah bersama Zubair dan Thalhah menuju Mekah.

Baca Juga: Umar Bin Khattab: Singa Padang Pasir

Jadilah tiga tokoh ini diikuti oleh banyak orang yang akhirnya terbentuklah 30.000 pasukan bersenjata. Pecahlah perang antara kaum muslimin yang kemudian disebut perang Jamal. Dalam perang tersebut terbunuh sekitar 10.000 orang. Zubair Bin Awam dan Thalhah bin Ubaidillah gugur. Sedangkan Aisyah selamat dan kembali ke Madinah.

Perang Shiffin

411pahlawanmuslim.blogspot.com
411pahlawanmuslim.blogspot.com

Kabut gelap menyelubungi langit Madinah pasca perang Jamal. Tak hanya Madinah, bahkan Damaskus, Kufah, Palestina, tapi juga wilayah-wilayah lain yang turut serta melakukan pembelaan atas kematian Utsman Bin Affan. Keinginan Ali pada Muawiyah agar mengambil ba’at-nya ditolak.

Pada awal tahun 37 H, perang besar antar keduanya tak terhindarkan lagi. Pasukan Ali berjumlah 95.000 orang, dan pasukan Muawiyah berjumlah 85.000. Dari pihak Ali gugur 35.000 orang, sedangkan dari pihak Muawiyah gugur 45.000 orang. (Baca Juga: Bilal Bin Rabah: Muazzin Pertama Rasulullah)

Semua itu dalam rangka menuntut darah atas kematian khalifah Utsman. Peperangan ini berakhir dengan janji yang didesak Ali pada Muawiyah. Amru bin Ash yang berada di pihak Muawiyah mengusulkan Tahkim atau mengembalikan masalah pada Al-Quran, dan peperanganmu diakhiri.

Siasat Tahkim

www.ummi-online.com
www.ummi-online.com

Pasukan Ali terpecah menjadi dua kelompok antara yang menerima dan menolak tahkim. Ali tahu betul bahwa tahkim hanya siasat belaka. Namun kondisi sulit membelitnya, lantaran pasukannya terpecah. Ia dalam kesulitan antara menerima atau menolak tahkim. (Baca Juga:

Menerima berarti melepas kemenangan, sedangkan menolak berarti mendapat serangan dari dalam pasukan sendiri. Dan pada akhirnya Ali pun terpaksa menerima. Saat perundingan berlangsung, terlihat jelas keinginan besar Muawiyah dan Amru bin Ash untuk meraih jabatan khalifah. Akhirnya dengan siasat Amru bin Ash, kelompok Ali tunduk dengan siasat logika politik.

Terbunuhnya Ali Bin Abi Thalib

liputanislam.com
liputanislam.com

Pasca tahkim, terjadi perpecahan di pihak Ali yaitu pihak yang menolak atau Khawarij, dan pihak yang masih setia dengan Ali atau Syiah. Kelompok Khawarij meyakini bahwa terpecahnya islam karena perseteruan pembesar politik yaitu Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah Bin Abi Shufyan, dan Amru Bin Ash.

Untuk kembali menyatukan umat islam, maka mereka harus dibunuh. Berkumpulah tiga orang yang siap membunuh mereka. Abdurahman Bin Muljam akan membunuh Ali Bin Abi Thalib, Hujaj Bin Abdillah akan membunuh Muawiyah Bin Abi Shufyan, dan Amru Bin Ash akan dibunuh Amru Bin Bakar.

Dari ketiga rencana tersebut hanya Khalifah Ali yang berhasil terbunuh. Sedangkan yang lain selamat dari pembunuhan tersebut. Selama 4 tahun 9 bulan Khalifah Ali memerintah dengan tegar dalam masa yang amat sulit, sarat fitnah dan ujian.

Video Ali Bin Abi Thalib