Berpuasa Sunah, Tukang Ojek Wafat Bersyahadat

Siang itu terasa sangat panas. Kendati demikian, cuaca seperti itu tak menyurutkan langkah Husein untuk mengais rezeki demi menafkahi keluarganya semasa hidupnya. Ia yang dikenal hidup sederhana mampu menampung anak yatim untuk tinggal bersama keluarganya. Jika sore telah menjelang, Husein menyempatkan diri untuk mengajari anak kecil mengaji tanpa imbalan.

Seperti biasanya, Husein berangkat menjadi tukang ojek di sekitaran pasar setiap pukul enam pagi. Ketika sekitar jam sembilan, Husein pulang dan beristirahat. Pekerjaannya yang sudah digelutinya belasan tahun itu memang tak banyak membuahkan pundi-pundi rupiah.

Namun, bagi. Husein sendiri, meski hasil dari ngojek tak seberapa, ia merasa sangat bersyukur karena mendapatkari rezeki yang halal. Selain itu, ketika teman-temannya yang lain pernah mengajaknya berjudi dari hasil ngojek, Husein selalu menepis ajakan dari temannya itu.

Kini hanya tinggal motornya saja yang terparkir di gudang rumahnya. Sudah tua dan berdebu. Maklum saja sepeninggal almarhum motor yang biasa digunakan dirinya untuk mengojek tak ada yang menggunakan lagi.

Bermula dari sepulang bekerja, tiba-tiba Husein mengeluh sesak napas kepada istrinya.

“Bu, dadaku terasa sesak,” kata Husein sambil terus memegangi dadanya.

“Jangan dipaksa puasa Pak, cepat minum obat sana, sahut sang istri. Namun sekali lagi, Husein tetap bersikukuh untuk tetap berpuasa karena merasa tetap kuat. Walaupun dalam keadaan apapun, Husein tak pernah meninggalkan puasa sekalipun.

Sebagai istri, tentunya sangat khawatir akan terjadi apa-apa. Lantas, istrinya menyarankan Husein untuk memeriksakan kondisi tubuhnya.

Husein pun berangkat untuk periksa. Dokter pun menyarankan untuk membatalkan puasa dan segera menjalani rawat inap. Saat hendak diinfus, Husein memohon untuk shalat Duhur terlebih dahulu. Kondisi yang semakin membuat Husein tertata untuk berdiri. Inilah saat-saat terakhir kepergian Husein yang membuat pasien lainnya terperangah dan kagum atas kealiman Husein. Saat diinfus, Husein membaca kalimat syahadat. Beberapa detik setelah jarum ditusuk, jantung Husein berhenti berdetak.

“Pak, sadar, pak…!” jerit sang istri. Nyawa Husein tak tertolong.

“Innalillahi wa innailaihi raajiuun,” gumam suara pasien lainnya seruangan dengan Husein.

Spontan kabar meninggalnya Husein membuat warga berbondong-bondong untuk melayat. Ratusan warga dan rekan, saudara dan murid ngajinya menyesaki kediaman rumahnya untuk ikut mendoakan. Isak tangis mewarnai proses pemakaman.

Kematian Husein menjadi perbincangan seluruh warga. Pasalnya sosok Husein sangat berbudi mulia. Ia lebih memilih berpuasa dan tak takut mati. Tak hanya itu, kesiapan menjemput ajalnya dengan shalat dan membaca syahadat adalah bukti bahwa ia hamba Allah yang menjalankan perintah agama.