Bilal Bin Rabah: Muazzin Pertama Rasulullah

Bilal Bin Rabah – Bilal adalah seorang budak berkulit hitam legam. Bilal lahir dari daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayah Bilal bernama Rabah dan ibunya bernama Hamamah yang juga seorang budak berkulit hitam. Mereka semua tinggal di Mekah.

Takdir telah membawanya menjadi budak Bani Jumah di kota Mekah atau Habsy berkulit hitam. Ia tidak memiliki hari esok yang bahagia, tak ada masa depan bagi budak yang terus mengalami penganiayaan.

Baca Juga: Umar Bin Khattab: Singa Padang Pasir

Masa Ketika Masuk Islam

nu-islam-nusantara.blogspot.com
nu-islam-nusantara.blogspot.com

Suatu hari Bilal mendapat kabar tentang seorang nabi akhir zaman yang mulai banyak dibicarakan masyarakat, terutama tokoh masyarakat yaitu Umayah yang begitu sering membicarakan sosok Muhammad dan kawan-kawannya. Meskipun Umayah berbicara dengan penuh kemarahan.

Baca Juga: Utsman Bin Affan: Pemilik Dua Cahaya

Namun Bilal mengetahui bahwa agama yang dibawa Muhammad adalah agama yang benar. Ia juga banyak mendengar sifat-sifat terpuji Nabi Muhammad, sehingga dari hal ini pula yang menggerakkan hati Bilal untuk semakin mencari tahu seperti apa sosok nabi akhir jaman tersebut. Dan akhirnya ia pun memutuskan masuk Islam.

Perjuangan Setelah Masuk Islam

justpaste.it
justpaste.it

Berita keiislaman Bilal telah menyebar. Bagi Umayah bin Khalaf sebagai tokoh Bani Jumah, jelaslah keislaman Bilal merupakan tamparan besar baginya. Penganiayaan demi penganiayaan pun terjadi. Namun Bilal tetap teguh pada pendiriannya. Justru keimanannya semakin kuat. (Baca Juga: Ali Bin Abi Thalib: Sang Pemilik Gerbang Ilmu)

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayah bin Khalaf. Bersama sang Algojo, Umayah mencambuk punggung hitam Bilal. Namun Bilal hanya terus mengatakan, “Ahad.. Ahad..(Allah Maha Esa)” Semakin kuat Bilal pada pendiriannya, semakin sering Bilal mengucapkan “Ahad” maka semakin kejam penyiksaan tersebut. Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi jusrtu Bilal kian memuji nama Allah.

Kiprah dan keimanan kuat Bilal seolah menjadi simbol teladan bagi para budak. Kulit hitam dan statusnya sebagai budak sama sekali tak menghalangi dirinya untuk mengenal Allah, tak membuatnya takut sama sekali akan ancaman para Quraisy.

Penyiksaan Terhadap Bilal

hikayat.afahrurroji.net
hikayat.afahrurroji.net

Di tengah terik panas matahari menyengat. Tanpa baju dan celana panjang, Bilal dibaringkan di atas bara api. Penyiksaan tersebut dilakukan agar Bilal keluar dari agama barunya. Ia dibaringkan di atas padang pasir yang telah menjadi pasir neraka yang amat panas, lalu ia ditindih dengan batu besar yang amat panas pula.

Seolah ia sedang berada di antara bara api yang siap membakar tubuhnya. Bilal terus dipaksa untuk meninggalkan agama barunya. Tawar menawar sambil diiringi penyiksaan terus dilakukan. “Sebutlah Tuhan Lata dan Uzza.”Namun Bilal tetap menjawab, “Ahad.. Ahad.. Ahad”Penyiksaan itu terus berlangsung hingga esok harinya.

Masih dalam kondisi yang sama, terus disiksa tanpa ampun, sampai suatu ketika Abu Bakar yang sedang lewat di sekitar mereka segera datang menghampiri.“Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan Tuhannya adalah Allah?”“Berikan harga lebih mahal dari harganya, lalu kubiarkan dia merdeka.”Abu Bakar pun memberitahukan Rosulullah perihal Bilal, dan Rosulullah pun membebaskan Bilal dari penyiksaan Umayah bin Khalaf.

Perjuangan dalam Membela Islam

bisniswisata.co.id
bisniswisata.co.id

Setelah Rosulullah hijrah ke Madinah. Siapakah yang mengumandangkan azan pertama kali? Dialah Bilal, yang telah mengalami penyiksaan demi penyiksaan. Kini Allah benar-benar menunjukkan kebesaran-Nya. Bilal dapat berjuang bersama Rosulullah untuk menegakkan Islam. Bahkan ia turut serta dalam perang Badar.

Bilal ikut serta dalam banyak perjuangan, salah satunya pembebasan kota Mekah, yang ketika itu Rosulullah bersama 10 ribu kaum muslimin memasuki kota Mekah sambil mengumandangkan takbir dan tahmid. Beliau menuju ka’bah yang ketika itu telah dipenuhi 360 berhala oleh suku Quraisy.

Rosulullah meminta Bilal mengumandangkan azan, dan seketika itu pula segala aktivitas penduduk kota berhenti. Ribuan kaum Muslimin terpukau dengan lantunan suara azan dari Bilal. Dengan lirih mereka mengulang-ulang lafal-lafal azan yang dikumandangkan oleh Bilal.

Sejarah mencatat bahwa setelah kematian Rosulullah, pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab, Bilal pergi ke negri Syam. Ia menetap di sana dan bergabung bersama pasukan Islam. Bilal berniat menghabiskan sisa hidupnya untuk berjuang di jalan Allah. Ia mengumandangkan azan untuk yang terakhir kali pada masa kekhalifahan Umar. Bilal wafat di Syam, di medan jihad. Tepatnya di tanah Damaskus.

Video Bilal Bin Rabah