Wahai Para Calon Pasangan, Inilah yang Harus Kamu Lakukan Setelah Akad

Dianjurkan kepada para suami setelah akad selesai untuk mendoakan istrinya. Doa ini dianjurkan oleh Rosulullah dengan cara meletakkan tangan di kening sang istri sambil mengucabkan doa,

Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih”

Yang artinya:
“Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada- Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya..”

Doa tersebut diikuti dengan sholat dua rakaat oleh sepasang suami istri yang telah resmi halal. Tujuan dari sholat ini agar Allah memberikan kebaikan dan menghindarkan keburukan pada pasangan dan keluarga yang akan dibangun kelak.

Diriwayatkan dari Ibnu Syaibah dari Ibnu Masud, beliau mengatakan, ”Perintahkan dia untuk shalat dua rakaat dibelakang (suaminya) dan berdoa,

”Allahumma Barik Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii. Allahummajma’  ainanaa Ma Jama’ta bi Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta bi Khoirin”

Artinya,                                                                                                                                                                                          “Wahai Allah berkahilah aku didalam keluargaku dan berkahilah mereka didalam diriku. Wahai Allah satukanlah kami dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau menghendaki (kami) berpisah dengan kebaikan pula.”

“Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada sebagian yang lainnya.” (HR Al Hakim dan Ath Thabrani dari Anas bin Malik. Al Albani meng-hasan-kannya)

Sudah dijelaskan dengan baik dalam hadits, bahwa pernikahan dapat diartikan pula adalah suatu perjanjian dengan Allah SWT. Maka di dalamnya benar-benar harus ada niat yang baik, bukan sekedar ingin menyempurnakan separuh Dien.

Namun juga karena mengharap berkah dan Ridho dari Allah. Ingatlah bahwa pasangan hidup kita adalah titipan Allah, bukan sesuatu yang serta merta dapat kita miliki secara leluasa dan sepihak tanpa memikirkan bagaimana kehidupannya kelak bersama kita.

Dari Syaqiq berkata, ”Datang seorang laki-laki yang dipanggil dengan Abu Huraiz lalu dia berkata kepada Ibnu Mas’ud,’Sesungguhnya aku menikahi seorang budak perempuan perawan. Sesungguhnya aku takut dia akan membenciku.’ Lalu Abdullah (bin Mas’ud) mengatakan, ’Seungguhnya rasa cinta berasal dari Allah dan kebencian dari setan yang ingin menjadikan kebencian kepada kalian terhadap apa-apa yang dihalalkan Allah. maka jika dia mendatangimu, maka shalatlah dua rakaat dibelakangmu.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah)

Maka pernikahan haruslah menjadi momen sakral sekali seumur hidup yang amat istimewa. Dalam sebuah pidato Udztad Fauzil ‘Adhim mengatakan, “Dahulu Anda adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka Anda. Tetapi sejak pagi ini, bila Anda belum juga pulang setelah larut malam, di rumah Anda ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Anda. Kini bila berhari-hari Anda tidak pulang tanpa berita, di kamar Anda ada seorang wanita lembut yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu, bila Anda mendapat mushibah, Anda hanya akan mendapat “Turut berduka cita” dari sahabat Anda. Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar Anda meraih kembali kebahagiaan Anda. Anda sekarang mempunyai kekasih yang diciptakan Allah untuk berbagi suka dan duka dengan Anda.”

Maka sudah sepatutnya seorang suami menjadi hal utama bagi istri. Bahkan sebuah pepatah mengatakan, madarasah atau sekolah terbaik bagi istri adalah suami.