Bahayanya Hidup Lama Membujang

Hidup Membujang – Setiap makhluk hidup membutuhkan teman hidup, teman berbagi dalam banyak hal. Bukan hanya manusia, bahkan hewan dan tumbuhan membutuhkan pasangan untuk dapat berkembangbiak. Lalu manusia? Justru ia jauh lebih membutuhkan pasangan hidup, mengingat ia makhluk sosial yang tak mungkin dapat hidup sendirian.

Masalahnya, bukan karena tak berniat, bukan lagi masalah enggan mencari teman hidup. Pastilah segala upaya dan cara telah dilakukan untuk mendapatkan yang terbaik, hanya saja kadang kehidupan tak seindah cerita. Keputusan untuk hidup sendiri atau membujang kadang datang karena sakit hati dan kekecewaan yang didapat secara berulang, sehingga hilang harapan dan kepercayaan pada orang lain.

Larangan Hidup Membujang

Dalam Islam tentu saja keputusan hidup membujang dilarang, bahkan bukan termasuk golongan Nabi Muhammad andai tidak menikah, karena menikah adalah sunnah nabi. Dalam sebuah hadits Rosulullah dijelaskan, bahwa,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan ‘Utsman bin Mazh’un untuk tabattul (hidup membujang), kalau seandainya beliau mengizinkan tentu kami (akan bertabattul) meskipun (untuk mencapainya kami harus) melakukan pengebirian.”
(HR. Bukhari no. 5073 dan Muslim no. 1402).

Tabattul atau hidup membujang menurut Subulus Salam karya Ash Shan’ani menjelaska bahwa hidup membujang dalam hal ini memilih beribadah sepenuhnya pada Allah tanpa menikah.

الْمُرَاد بِالتَّبَتُّلِ هُنَا الِانْقِطَاع عَنْ النِّكَاح وَمَا يَتَّبِعهُ مِنْ الْمَلَاذ إِلَى الْعِبَادَة

“Yang dimakusd tabattul adalah meninggalkan menikah karena sibuk untuk ibadah.”
(Fathul Bari, 9: 118)

Allah juga menegaskan pula dalam firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu.” (QS. Al Maidah: 87)

Larangan Membujang

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan dalam buku Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al Asqolani memperjelas bahwa,

“Terlarang melakukan  yaitu (tabattul) meninggalkan untuk menikah dikarenakan ingin menyibukkan diri untuk beribadah dan menuntut ilmu padahal mampu ketika itu. Larangan di sini bermakna tahrim (haram).” (Minhatul ‘Allam, 7: 182).

Hadits Rosulullah juga kembali memperjelas larangan hidup membujang,

“Kaliankah yang berkata demikian dan demikian. Demi Allah, aku sendiri yang paling takut pada Allah dan paling bertakwa pada-Nya. Aku sendiri tetap puasa namun ada waktu untuk istirahat tidak berpuasa. Aku sendiri mengerjakan shalat malam dan ada waktu untuk tidur. Aku sendiri menikahi wanita. Siapa yang membenci ajaranku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401)

Sudah jelas bukan? Bahwa siapa yang tidak mengikuti ajaran Rosulullah, maka bukan termasuk golongannya.

Beberapa Alasan Membujang

Ada beberapa alasan kenapa seseorang memutuskan hidup membujang, dalam Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i (2: 14-15) disebutkan,

  1. Memilih membujang sebab tak memiliki keinginan untuk menikah. Hal ini biasanya karena suatu alasan rumit seperti memiliki penyakit kronik atau kondisi kesehatan yang teramat buruk. Dalam kondisi seperti ini maka dimakruhkan untuk menikah, karena ditakutkan akan menimbulkan hal-hal di luar keinginan seperti kekecewaan pasangan.
  2. Membujang lantaran sibuk beribadah, atau takut menikah hanya akan menganggu ibadah meskipun dalam segi ekonomi mencukupi. Dalam kondisi semacam ini sebaiknya tidak menikah, karena terdapat adanya maslahat yang besar, dan biasanya juga bukan orang biasa yang berani mengambil keputusan seperti ini. Contoh saja Robiah Al-Adawiyah, wanita sufi pertama yang menurut sejarah memutuskan tidak menikah lantaran takut cintanya pada Allah terbagi.
  3. Membujang atas dasar keinginan pribadi, bukan karena kesibukan atau masalah financial maupun kesehatan. Dalam kodisi ini sebaiknya menikah, karena hal ini bukan masalah besar, hanya masalah keinginan pribadi yang dirasa dapat dirubah seiring berjalannya waktu.

Perawi hadits seperti Imam Nawawi dam Ibnu Taimiyah merupakan salah satu contoh kedua. Mereka tidak menikah lantaran kesibukan mengumpulkan hadits, dan jihad di jalan Allah melalui ilmu.

Sedangkan jika Anda tidak termasuk dalam kondisi di atas, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk memutuskan hidup membujang. Apalagi membujang hanya karena sempat patah hati atau ditinggal menikah sang kekasih. Kalau memang masalahnya patah hati lantaran ditinggal menikah, ya berarti dia bukan jodoh. Allah pasti mempersiapkan pengganti terbaik, oleh karena itu pengganti tersebut harus dijemput, bukan ditunggu saja.