Ternyata, Kau Bukan Imam yang Kuimpikan

Imam – Kadang, hidayah Allah tak selalu melalui ucapan dan perbuatan orang-orang shaleh, justru aku merasakan hal lain. Rasa menggelora yang membuat hatiku terbuka. Tentang seseorang yang menjadi jalan hidayah bagiku. Dia, melihatnya membuatku ingin menjadi wanita sholehah.

Aku seorang aktivis akhwat di salah satu kampus negeri. Dakwah, mengkaji Islam adalah aktivitasku saat ini. Namun jauh sebelumnya, aku tak ubahnya seperti perempuan di luar sana. Namun, semua berubah sejak aku mengenal Fahmi (bukan nama sebenarnya). Dia adalah seorang ketua himpunan di jurusan aku kuliah.

Fahmi adalah lelaki dewasa, santun, cerdas, sopan dan yang pasti sholeh. Itu penilaianku terhadap dirinya. Sosoknya merupakan inspirator besar bagiku. Meskipun kita jarang berkomunikasi, tapi aku selalu memperhatikannya, mengaguminya dari jauh.

Jujur, aku menyukainya. Namun kadang merasa tak pantas, dia terlalu tinggi untuk dikagumi. Bahkan pribadinya yang santun membuatku kian malu. Ingin rasanya memantaskan diri, meskipun hanya sekedar menyukainya.

Apalagi dengar dari cerita teman-teman, Fahmi menyukai perempuan berjilbab besar. Ah, bukankah aku masih berjilbab pendek. Selain itu ada satu hal yang membuatku harus introspeksi adalah kata seorang teman di kelasku. Dia bilang, “Lelaki yang baik hanya untuk perempuan yang baik.”

Ya Allah, sungguh, aku merasa kian tak pantas untuknya.

Sejak saat itu, aku mulai mengganti busana dan penampilanku. Aku yang biasanya memakai celana jins dan berjilbab pendek mulai berbusana tertutup layaknya muslimah di luar sana. Aku berharap penampilan ini membuatku pantas, meskipun hanya sekedar menyukainya. Sejujurnya aku berharap kelak dia adalah jodohku. Bahkan dalam setiap doaku ada namanya. Aku yakin jika hidup bersamanya pasti bahagia.

Tiga tahun berlalu, dan aku masih mengaguminya, masih terus menyebut namanya dalam doa dan tahajutku, bahkan kerap kali aku memimpikannya. Semakin lama perasaan ini semakin besar, begitupun harapanku padanya, meskipun rasa ini hanya mampu kupendam, dan dia tak pernah menyadari perasaan ini. Tidak papa, aku hanya akan terus berdoa.

Semakin tulus aku berdoa, justru Allah menunjukkan hal lain yang tak pernah terlintas sama sekali dalam pikiranku. Tiga tahun mengagumi berakhir kekecewaan. Kudengar dari teman kalau Fahmi sedang PDKT dengan cewek jurusan lain, bahkan mereka mulai pacaran. Jujur, aku amat terluka, sakit hati, cemburu, dan yang lebih menyakitkan adalah pacarnya yang tidak berjilbab. Aku menangis kecewa dan amat kecewa dengan kenyataan.

Salah seorang temanku bilang kalau sejak dulu Fahmi sudah mengincar cewek itu, sudah berusaha mendekati, dan bodohnya aku tetap menganggapnya lelaki sholeh. Ya Allah, aku telah dibutakan oleh cinta semu. Kekagumanku terlalu dalam hingga membuatku terlena. Aku terlalu polos dan percaya pada sampulnya.

Aku meratapi kebodohanku, aku berusaha keras membuang segala rasa yang pernah ada untuknya. Dia bukan imam yang kuimpikan. Namun ada satu hal yang kusyukuri dalam hal ini, Allah membuka hatiku, memberiku hidayah melalui dirinya. Meskipun pada akhirnya berujung kekecewaan, tapi aku telah sadar bahwa ternyata berharap pada manusia hanya akan berakhir kekecewaan.

Sejak kejadian itu, aku mulai menata hati. Mulai memperbaiki niatku mendekatkan diri pada Allah. Aku telah tergelincir dalam kebaikan, setidaknya itu yang kusyukuri. Kini aku lebih menjaga hati dan menyerahkan semua pada Allah. Perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, dan Allah telah membuka mataku bahwa dia bukan laki-laki yang baik untukku.