Ini Dia Fakta Tentang Istilah Pelakor

Fakta, Wanita Sering Salahkan Pelakor Dibanding Pasangannya

Sepertinya pengguna medsos itu sebagian besar adalah ibu ibu, dan pada intinya sebagian besar pengguna medsos itu adalah kaum wanita. Meski ada unsur pria didalamnya tetapi tidak mendominasi dan biasanya akan menjadi pembaca senyap atau silent reader. Dalam arti para pria ini di mendsos hanya sebagai pengamat daripara penulis yang membagikan sesuatu atau yang dikenal dengan istilah status.

Oleh karena itulah banyaknya istilah istilah yang berkembang dan bermunculan akhir akhir ini diproduksi yang berkaitan dengan wanita. Istilah terbaru yang aktif sebagai produsennya adalah kaum wanita yaitu istilah pelakor. Istilah ini merupakan singkatan dari perebut laki orang, dalam arti wanita yang merebut suami orang lain.

Dilihat dari medsos fenomena ini banyak sekali bermunculan, bisa dilihat dari banyaknya status dan kasus yang seperti itu banyak terjadi dan terekspos di medsos.  Didalam istilah ini yang aktif merebut itu adalah wanita. Jika dibandingkan dengan istilah sejenis lainnya yang sempat populer beberapa waktu yang lalu yaitu WIL alias Wanita Idaman Lain.

Yang membedakan WIL dengan Pelakor ini adalah didalam WIL kaum wanita itu tidak terkesan agresif, wanita disini hanya sebagai objek tetapi bukan subjek. Sedangkan didalam istilah pelakor itu kaum wanitalah yang terkesan agresif dan menjadi subyeknya. Sehingga sangat jelas jika istilah ini hanya diterapkan untuk kaum wanita saja. Sehingga jika laki laki yang menggunakannya maka istilahnya itu perlu disesuaikan yaitu menjadi perirang atau pebirang yang merupakan singkatan dari perebut istri orang atau perebut bini orang.

Pastinya yang akan menyebut istilah pelakor ini adalah kaum wanita, karena istri dari seorang suami itu adalah wanita. Sehinga wanita akan aktif sebagai penyebut dan juga yang disebut. Istilah ini ditahun 2017 bisa saja dinobatkan sebagai istilah yang paling populer di medsos. Bukan hal yang asing lagi jika sebuah istilah itu awal berkembangnya itu di media sosial. Istilah ini mempunyai konotasi negatif karena istilah ini akan memberi kesan jika wanita itu yang bersalah.

Istilah ini tidak bersifat netral, karena istilah ini sangat berpihak kepada laki laki dan akan sangat mengesampingkan peran wanita didalam sebuah hubungan. Dalam arti istilah ini akan sangat menyalahkan perempuan atas terjadinya sebuah perselingkuhan. Padahal didalam kenyataanya yang bersalah itu adalah kedua belah pihak yaitu penggoda dan yang digoda.

Itulah fakta tentang istilah pelakor. Pada intinya istilah ini terjadi karena tidak adanya kesetiaan dari keduanya kepada masing masing pasangannya.