Kisah Nabi Ibrahim A.S Mencari Tuhan

Kisah Nabi Ibrahim – Nabi Ibrahim merupakan salah satu nabi yang paling banyak berpengaruh setelah Nabi Muhammad. Pasalnya kabah yang menjadi pusat beribadah di mekah adalah bangunan yang dibuat di masa kenabiannya. Bahkan nama Ibrahim paling banyak di sebut dalam Al-Quran setelah Nabi Muhammad SAW.

Nabi Ibrahim merupakan salah satu nabi ulul azmi yang mendapatkan ujian yang jelas, dalam artian ia mendapat ujian di atas rata-rata manusia. Bahkan Allah memberikan penghormatan secara khusus padanya.

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh
kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan)” (QS. an-Nahl: 120)

Nabi Ibrahim lahir dari keluarga terhormat dan terkenal. Ayahnya adalah seorang ahli pembuat patung. Disebutkan bahwa ayahnya membuat patung bernama Azar, yang di masa itu merupakan patung paling terkenal, sehingga dapat disimpulkan bahwa ayah Nabi Ibrahim bukan orang biasa saja di zamannya. (Baca Juga: Kisah Nabi Ishaq AS)

Nabi Ibrahim AS dan Patung

Kisah Nabi Ibrahim
prasasto.blogspot.com

Allah memberikan kecerdasan dan hati yang bersih pada Nabi Ibrahim. Suatu hari, Ibrahim kecil yang masih berumur tujuh tahun melihat patung buatan ayahnya yang paling besar dan bertanya. “Patung apakah ini wahai ayahku? Kedua telinganya besar, lebih besar dari telinga kita.” Dan ayahnya menjawab, “Itu adalah Mardukh, tuhan para tuhan.”. Dalam hati Ibrahim tertawa. Benar-benar tidak masuk akal, Tuhan para Tuhan yang dibuat oleh tangan manusia, lalu disembah oleh manusia itu sendiri. (Baca Juga: Kisah Nabi Ilyas A.S dan Ilyasa Serta Penduduk Negeri Baalbek)

“Terbuat dari apa Tuhan-Tuhan itu, Ayah?” tanya kembali Ibrahim. Ayahnya menjawab, “Dari kayu pelepah kurma atau pohon zaitun.”

Tuhan terbuat dari kayu pelepah kurma, lalu bagaimana mungkin Tuhan semacam itu mampu memberi perlindungan. Bahkan mereka saja tidak makan dan minum, apalagi bernapas. Lalu bagaimana bisa patung-patung itu mampu memberi kehidupan. Ibrahim cerdas mulai marah dengan kondisi yang tak logis disekitarnya.

“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: ‘Pantaskah kamu
menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan
kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada
Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan Kami
(memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam
menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ‘Inilah Tuhanku,’ tetapi
tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”
(QS. al-An’am: 74-76)

Kemarahan ayah Nabi Ibrahim meledak, ia tak kuasa lagi untuk menahan emosi melihat perkembangan pemikiran Nabi Ibrahim yang kian kritis dan mulai menentang ajaran menyembah berhala. Bahkan sang ayah mengancam akan merajam dan membunuh Nabi Ibrahim jika ia tetap menentang Tuhan ayahnya. Nabi Ibrahim diusir oleh ayahnya dari rumah, bahkan terancam dibunuh. Namun Nabi Ibrahim tetap teguh pendirian dan tetap hormat pada ayahnya. (Baca Juga: Kisah Nabi Idris dan Malaikat Izrail)

Suatu ketika setelah terusir dari rumah, Nabi Ibrahim melewati suatu tempat di mana patung-patung sebagai sesembahan kaumnya berjajar, bahkan di depan patung-patung tersebut terdapat makanan sebagai nazar atau hadiah. Nabi Ibrahim mulai mengejek patung-patung bisu itu. Ia bertanya, “Makanan yang ada telah dingin. Mengapa engkau tidak memakannya?”

Dengan kapak di tangannya, Nabi Ibrahim menghancurkan satu persatu patung-patung tersebut, dan membiarkan satu patung paling besar untuk tetap berdiri di sana sambil menggantungkan kapaknya di leher sang patung, lalu Nabi Ibrahim pergi.

Kaum Nabi Ibrahim kaget bukan main melihat patung yang mereka sembah telah hancur. Siapa pelakunya? Nabi Ibrahim menjadi tersangka utama, mengingat hanya dirinya satu-satunya manusia yang menentang. Mereka pun menemui Nabi Ibrahim dan bertanya, “Apakah benar engkau yang melakukan semua ini terhadap tuhan kami wahai Ibrahim?” (QS. al-Anbiya’: 62)

Nabi Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara” (QS. al-Anbiya’: 63)

Nabi Ibrahim mengajak sekaligus mengejek mereka dalam sebuah pemikiran kritis. Mereka sadar bahwa Tuhan yang mereka sembah tak dapat berbicara, apalagi bergerak, jadi mana mungkin Tuhan mereka sendiri yang menghancurkan patung. (Baca Juga: Kisah Nabi Hud A.S dan Kaum Aad)

Nabi Ibrahim berhasil memecah argumen mereka. Namun justru di sinilah letak peperangan berikutnya. Mereka berniat membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup. Nabi Ibrahim ditangkap dan siap dibakar dengan disaksikan oleh umatnya. Nabi Ibrahim dilempar di tengah kubangan api. Pertolongan Allah pun datang.

“Kami berfirman: Wahai api jadilah engkau dingin dan membawa keselamatan kepada
Ibrahim.” (QS. al-Anbiya’: 69)

Video Kisah Nabi Ibrahim A.S

https://www.youtube.com/watch?v=lM2amPD6KUs