Kisah Nabi Luth A.S. dan Kaum Sodom

Kisah Nabi Luth – Di sinilah kejahatan terbesar sepanjang sejarah terjadi, bukan lagi pembunuhan, syirik, apalagi murtad. Bukan hanya itu, tapi naluri kemanusiaan kaum di jaman ini sudah hancur sehingga mereka melakukan perbuatan paling keji yang pernah ada yaitu melakukan hubungan sesama jenis (Homo sex).

Nabi Luth lahir dan berjuang di tengah kaum mengerikan seperti itu. Ia harus berjuang jauh lebih keras untuk menyebarkan dakwah. Pasalnya kaum Nabi Luth melakukan berbagai kejahatan yang tidak dilakukan oleh kaum sebelumnya. Namun Nabi Luth tetap berdakwah dengan penuh kesabaran meskipun kaumnya banyak yang mengingkari. (Baca Juga: Kisah Nabi Musa A.S Melawan Fir’aun)

“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu sedang kamu melihat(nya). Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak dapat mengetahui (akibat perbuatanmu)” (QS. an-Naml: 54-55)

Hati kaum Nabi Luth benar-benar telah sakit parah. Mereka melakukan perbuatan lebih dari kata keji dan mungkar di saat Nabi Luth berupaya keras dalam berdakwah. Diceritakan bahwa mereka menganggap hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah kekejian. Kejatahan yang dilakukan mereka tanpa sembunyi-sembunyi. Bahkan jika ada musafir yang datang ke kota mereka, dengan cepat mereka menangkap. Bahkan melakukan tindakan hina dengan melakukan hubungan sesama jenis. (Baca Juga: Kisah Nabi Ismail AS dengan Kesabarannya)

Dari tahun ke tahun, Nabi Luth tetap berdakwah tak kenal lelah meskipun perubahan yang dihasilkan tak seberat perjuangan. Bahkan yang lebih tragis kala itu, tak seorangpun yang mengikuti Nabi Luth. Kaum Nabi Luth benar-benar sudah sakit kronik. Sudah tak ada lagi sedikitpun iman yang tersisa di hati mereka. Ternyata cobaan Nabi Luth tak sampai di sana, keluarga yang ia harapkan menjadi penopang perjuangan dakwahnya justru ingkar.

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk neraka.” (QS. at-Tahrim: 10)

Kehidupan Nabi Luth penuh siksaan, baik di rumah maupun di luar. Jika rumah adalah tempat berteduh terbaik, justru di rumah Nabi Luth tersiksa. Tahun demi tahun tetap sama tak ada perkembangan. Kondisi sulit yang membuat Nabi Luth kian tersiksa dan mulai putus asa dengan kaumnya. Ia pun meminta pertolongan pada Allah.

Baca Juga: Kisah Nabi Syu’aib A.S dan Penduduk Madyan

Suatu hari, dua orang pemuda tampan bertamu di rumah Nabi Luth. Pemuda-pemuda itu tidak lain adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia untuk menguji kaum Nabi Luth. Dengan sedikit cemas Nabi Luth meminta mereka untuk tidak menginap. Namun mereka tetap menginap dan Nabi Luth pun merahasikan mereka.

Hanya saja cerita tak berjalan semudah itu, istri Nabi Luth yang melihat pemuda-pemuda tampan tersebut tak ambil diam. Ia pun mengatakan pada penduduk kota bahwa ada tamu suaminya yang amat tampan. Kaum Nabi Luth pun segera datang untuk bertemu tamu tersebut. (Baca Juga: Kisah Nabi Saleh AS dan Kaum Tsamud)

Pemuda-pemuda yang berada di rumah Nabi Luth masih duduk tenang. Padahal di luar rumah kaum Nabi Luth sedang mengejek, mencela bahkan mulai menggedor pintu rumah. Puntu rumah mulai dipukul keras, sampai retak. Dalam kondisi tersebut Nabi Luth mulai kesal. Ia berharap Allah memberi pertolongan untuk melindungi tamunya.

“Para utusan (malaikat) berkata: ‘Hai Luth sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-sekali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” (QS. Hud: 81)

Mendadak, pintu yang didobrak kaum Nabi Luth terbelah. Jibril yang menyamar menjadi tamu bangkit dan membutakan mata kaum Nabi Luth. Membuat mereka kebingungan bukan main, dan seketika itu pula malaikat Jibril menghilang.

“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal.” (QS. al-Qamar: 37-38)

Jibril meminta Nabi Luth berserta keluarga dan kaumnya yang beriman untuk meninggalkan kota, karena adzab Allah akan tiba di waktu subuh.

“Pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kalian yang tertinggal, kecuali istrimu Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka adalah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud: 81)

Malaikat Jibril menghancurkan tujuh kota dengan sayapnya, tak ada lagi kaum Nabi Luth yang tersisa kecuali yang beriman. Tamat sudah hidup kaum Nabi Luth kala itu.

Video Kisah Nabi Luth A.S