Kisah Nabi Musa A.S Melawan Fir’aun

Kisah Nabi Musa – Ketika Mesir dipimpin oleh Nabi Yusuf, ia tumbuh menjadi negara luar biasa dengan sistem Islam yang sudah tertata. Islam menjadi agama tauhid di sana. Namun setelah Nabi Yusuf meninggal, Mesir kembali dalam kekabungan. Islam yang semula telah baik kembali dihancurkan.

Agama yang bermula hanya menyembah satu Tuhan berubah menjadi banyak Tuhan. Dan Fir’aun mulai berkuasa di sini. Fir’aun mengaku dirinya sebagai Tuhan yang memaksa rakyat untuk patuh dan taat padanya. Bahkan ia memaksa rakyat untuk membenarkan setiap tindakannya.

“Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya (seraya berkata): Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. an-Nazi’at: 23-24)

Nabi Musa lahir di masa-masa sulit saat Fir’aun membuat ultimatum bahwa siapa saja yang melahirkan anak laki-laki harus dibunuh. Keadaan sulit inilah yang memaksa ibu Nabi Musa menyusui dengan cara sembunyi-sembunyi. Nabi Musa adalah anak laki-laki dari Imran Bin Yas-har. Nabi Musa merupakan saudara Nabi Harun. Pada masa kelahirannya, wahyu Allah turun pada sang ibu yang dalam kebingungan.

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: Susuilah dia dan apabila khawatir terhadapnya maka jatuhkalah ia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS. al-Qashash: 7)

Sang ibu diperintah untuk membuat peti sebagai perlindungan terhadap Nabi Musa. Usai menyusui Nabi Musa, dengan berat hati sang Ibu meletakkan bayi Nabi Musa dalam peti tersebut, dan membuangnya di sungai Nil.
Suatu hari, istri Fir’aun menemukan bayi Nabi Musa. Entah kenapa pertemuan pertama dengan bayi Nabi Musa membuat istri Fir’ain jatuh cinta, seolah ia anaknya sendiri. Allah menanamkan cinta kasih seorang ibu di hati istri Fir’aun. (Baca Juga: Kisah Nabi Luth dan Kaum Sodom)

Fir’aun marah bukan main ketika mendapati istrinya menggendong seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang seharusnya dibunuh. Namun istrinya menolak dan berharap besar Fir’aun memahami keinginannya kali ini.

“Dan berkatalah istri Fir’aun: ‘(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia jadi anak.” (QS. al-Qashash: 9)

Melihat sang istri menangis, juga mengingat dirinya yang belum mampu memberi keturunan, maka kali ini Fir’aun mengijinkan bayi Nabi Musa dirawat dan dibesarkan di istana. Istri Fir’aun begitu bahagia. Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka, Fir’aun melihat istrinya tersenyum bahagia seperti itu.

Nabi Musa dibesarkan dan dididik dengan sangat baik di istana. Ia belajar banyak ilmu di antaranya, ilmu bangunan, ilmu hisab, kimia, dan bahasa. (Baca Juga: Kisah Nabi Ismail AS dengan Kesabarannya)

“Dan setelah Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lemah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki
yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan darinya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: ‘Ini adalah perbuatan setan. Sesungguhnya setan
itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa berdoa: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: ‘Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.'” (QS. al-Qashash: 14-17)

Bermula dari peristiwa tersebutlah Nabi Musa mulai mendapat masalah. Ia dimusuhi dan hendak diusir dari kota. Bahkan Nabi Musa hendak dibunuh.

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang lalim itu.'” (QS. al-Qashash: 21)

Akhirnya Nabi Musa pun terusir dari kota. Ia pergi dalam keadaan ketakutan kalau-kalau Fir’aun memerintahkan pasukannya untuk mengejar dan membunuhnya. Perjalanan panjang membawa Nabi Musa menuju kota Madya. Di kota tersebut Nabi Musa tinggal selama sepuluh tahun. Ia mengembala dan menikah dengan seorang gadis anak dari lelaki sholeh. (Baca Juga: Kisah Nabi Syu’aib A.S dan Penduduk Madyan)

Sepuluh tahun berlalu, dan Nabi Musa memutuskan untuk kembali ke Mesir bersama keluarganya.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43-44)

Setelah mendapat perintah tersebut, pergilan Nabi Musa menemui Fir’aun. Ia mencoba berbicara secara sopan tentang hakikat ketuhanan. Namun Fir’aun justru menentang dakwah Nabi Musa. Bahkan merencanakan pembunuhan

“Fir’aun berkata: ‘Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.'” (QS. asy-Syu’ara’: 29)

Fir’aun bersama pasukan bersenjatanya memburu Nabi Musa. Sedang Nabi Musa yang berdiri di tepi sungai Nil tak gentar sama sekali. Sejarah mencatat peristiwa luar biasa di sini. tongkat Nabi Musa mampu membelah lautan dan menenggelamkan pasukan Fir’aun. Di sinilah mu’jizat Nabi Musa. Tongkat yang mampu membelah sungai Nil dan menyelamtkan dirinya dan umatnya dari kejaran pasukan Fir’aun. (Baca Juga: Kisah Nabi Saleh AS dan Kaum Tsamud)

Video Kisah Nabi Musa A.S

https://www.youtube.com/watch?v=aBXP33o0WZw