Kisah Nashruddin Joha Versus Orang Yahudi

Di tengah malam, Joha masih duduk di dalam rumahnya seraya berdoa dan bermunajat kepada Adah swt dengan tekunnya. Diam-diam, tetangga sebelah rumahnya, seorang Yahudi sedang mengitipnya. Mengetahui hal itu, si Yahudi iseng-iseng berniat memperolok-oloknya. Namun, Joha tahu kalau ia sedang dintipnya. Oleh karena itu, Joha pun pura-pura berdoa.
“Ya Allah Ya Tuhanku, berilah aku rezeki uang seribu dinar. Dan bila kurang satu dinar saja aku tidak akan mau menerimanya.”
Si Yahudi yang mendengar doa Joha tersebut lalu melemparkan sekantong uang dirham. Joha mengambilnya. Setelah dihitung, ternyata jumlahnya sembilan ratus sembilan puluh sembilan dirham. Kemudian Joha mengangkat kedua tangannya sebagai tanda syukurnya kepada Allah. Dengan suara lantang, ia berkata, “Terima kasih Ya Allah, ternyata Engkau memang Maha Dermawan. Engkau hanya mengurangi permohonanku satu dinar saja. Tidak apa-apa.”
Setelah itu, Joha membawa kantong tersebut untuk disembunylkannya. Akan tetapi, tidak beberapa lama kemudian, si Yahudi itu menemuinya dengan nafas tergopoh-gopoh.
“Maaf, aku tadi hanya bercanda. Tolong kembalikan uangku itu! Sungguh aku hanya ingin mengujimu untuk mengetahui kebenaran doa yang kamu panjatkan kepada Allah,” tuturnya dengan wajah memelas.
“Uang apa maksudmu? Apakah aku pemah berhutang padamu?” Jawab Joha berpura-pura.
“Aku berani sumpah, Tuan, itu tadi memang uangku. Akulah yang melemparkanya kepadamu demi hanya ingin menggodamu,” ujarnya serius.
“Kamu ini pasti gila. Siapa pun tidak akan percaya atas omonganmu ini. Memangnya, kamu pemah mendengar orang Yahudi yang mau melemparkan uangnya begitu saja kepada orang lain? Aku yakin, uang itu dari Allah yang mengabulkan doaku, karena Dia memang Maha Kaya,” tangkis Joha.
“Kalau begitu, mari kita selesaikan kasus ini di depan hakim!” kata si Yahudi penuh emosi.
“Boleh,” jawab Joha. Tetapi kamu kan tahu kalau aku ini sudah cukup tua. Aku jelas tidak sanggup berjalan ke kantor pengadilan yang jaraknya sangat jauh. Apalagi di musim dingin begini. Aku perlu kendaraan dan mantel.”
“Baik, aku akan meminjamimu seekor keledai dan sepotong mantel,” tegas si Yahudi
mengusulkan.
Akhimya, pagi-pagi sekali mereka berdua pergi ke kantor pengadilan. Si Yahudi terpaksa harus berjalan kaki, sementara Joha mengendarai keledai dengan sepotong mantel melekat di tubuhnya. Ketika sampai di pengadilan, si Yahudi langsung menceritakan masalahnya kepada sang hakim.
“Apa yang dituduhkan si Yahudi kepadaku tidaklah benar, wahai Pak Hakim!” bantah Joha dengan sengitnya. “Sekalipun mata kepalanya melihat orang lain hampir mati kehausan, ia tidak akan memberinya seteguk air dan sepotong kue sedikit pun. Lalu bagaimanakah Anda percaya kalau ia telah memberiku uang hampir seribu dinar begitu saja. Ia jelas mengada-ada untuk mendapatkan uangku. Bahkan mungkin saja, ia juga akan mengaku kalau keledai yang aku tambatkan di depan sana itu juga miliknya,” tambah Joha.
“Oh, kamu juga mau mangkir kalau itu keledaiku?” ucap si Yahudi semakin kesal. “Bukankah aku hanya meminjamkannya padamu, karena kamu mengaku sudah cukup tua dan tidak sanggup berjalan kaki ke kantor pengadilan ini?”
“Dengar itu tadi baik-baik, wahai Tuan Hakim! Tuduhannya yang ini pun ngawur sekali. Kalau begini caranya, apa yang menjadi milikku sudah tidak ada yang aman lagi. Bisa-bisa mantel yang sedang aku pakai ini juga akan diakui sebagai miliknya,” sanggah Joha lagi.
Si Yahudi itu pun semakin naik pitam. “Hai, bukankah memang begitu kenyataanya?” teriaknya menyalak ke arah Joha.
Sang hakim lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri si Yahudi dan berkata: “Sekarang keluarlah kamu dari sini! Aku sudah tahu dengan jelas bahwa tuduhanmu tadi itu tidaklah benar. Ini hanya akal-akalanmu saja. Lekas, pergi! Kamu hanya ingin merampas harta orang tua yang miskin ini.”
Si Yahudi pun keluar sambil menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa sakit sekali. Tidak lama kemudian, Joha menyusul pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah, Joha menyuruh pelayannya untuk memanggil tetangganya, si Yahudi tersebut. Ia pun datang seraya menangis dengan mengiba-iba agar uangnya dikembalikan. Karena merasa kasihan dan memang bukan haknya, akhirnya Joha mengembalikan uang dalam kantong tersebut.
“Mulai sekarang, kamu jangan lagi ikut campur dalam masalah yang menyangkut Allah Sang Maha Pencipta dengan mahluk-Nya. Dan juga jangan melecehkan hamba-hamba Allah!” ujar Joha menasehatinya.
Si Yahudi pun merasa sangat senang sekali menerima uangnya kembali. Selanjutnya, dengan kesadaran sendiri, ia meminta Joha menuntunnya untuk masuk Islam. Maka sejak saat itu, ia berubah menjadi seorang muslim. Wallahu’alam bil sahab.