Penyesalan Seorang Suami

Kisah Penyesalan – Kadang waktu berlalu membiarkan kita dalam kekosongan. Tidak memahami mana yang terbaik, atau bahkan melihat segala sesuatu hanya dari kacamata umum saja, sehingga hal-hal kecil yang justru bernialai besar tak sampai di mata kita.

Ibarat kelinci di sebrang nampak, tapi gajak dipelupuk mata tak nampak. Itulah hal yang sering kita alami dalam kehidupan. Kadang kita hanya terpaku pada satu pintu, padahal pintu yang lain terbuka untuk kita, dan bodohnya kita tak pernah sadar akan hal itu.

Dan aku adalah salah satunya. Lelaki yang hanya bisa membiarkan penyesalan menyiksa, padahal seandainya dulu aku bisa mengerti, bisa berpikir lebih dalam, mungkin tidak akan berakhir seperti ini.

oOo

Aku pernah menjalani rumah tangga bersama seorang wanita. Sebut saja namanya (Maryam). Dia wanita berhijab yang memiliki keyakinan kuat terhadap Islam. Jauh berbeda dariku yang hanya sekedar tau Islam sebatas itu-itu saja, anggaplah Islam KTP.

Aku menikah dengan Maryam tahun 2004 silam. Pernikahan kami bermula dari perjodohan yang dilakukan keluarga kami, mengingat kedua orangtua kami berteman sejak kecil. Jujur saja, sesungguhnya aku tak begitu berniat membina rumah tangga atas perjodohan ini, mengingat umur Maryam yang empat tahun lebih tua dariku, juga pemahaman agama yang terlaumpau jauh membuatku banyak berpikir.

Selain itu aku juga sempat banyak bertanya pada teman-teman di kampus terkait organisai di mana Maryam berjuang. Memang benar, jika wanita seperti Maryam pasti mengharapkan menikah dengan lelaki yang setingkat pemahaman angama dengannya. Sedang aku??

Aku yakin ada ribuan protes dalam hatinya, kenapa harus aku?

Maryam adalah wanita yang taat, dan aku yakin kebisuannya bukan alasan. Ia tak mampu menolak, apalagi watak orangtua Maryam yang cukup keras. Aku yakin ia diam karena memendam ketidakmampuan dirinya. Aku ataupun Maryam, tak pernah terlintas bahwa kita akan menjalani hidup bersama seperti ini. Perbedaan itulah yang justru membawa kami tinggal di bawah atap yang sama.

Begitu banyak pikiran yang mengusik usai pernikahan. Tentu saja tentang tingkat keagaaman yang berbeda. Kadang aku berpikir, haruskah aku masuk dalam kehidupan agamaya yang kental? Atau mungkin aku tetap hidup santai seperti sebelumnya, tak perlu memaksakan diri ikut arus kehidupan yang ia jalani. Aku mulai bingung, harus kubawa kemana tujuan rumah tangga ini? Sedang di sisi lain aku adalah seorang pemimpin.

Jujur, sebagai seorang suami, aku merasa ia telah melakukan banyak hal untukku. Ia melayani tanpa pernah mengeluh, ia tau cara menempatkan dirinya, bahkan tak pernah protes atas setiap apa yang kulakukan. Semua mengalir begitu saja, meskipun dalam hati aku yakin ia tidak mencintaiku.

Aku sendiri tak pernah merasa terusik dengan aktivitasnya, entah itu beribadah atau aktivitas lain. Ia bahkan tak memintaku untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dirinya, misalnya sholat tepat waktu. Dia mampu membuatnya merasa nyaman. Demikian pula aku, aku tak pernah memprotes apapun ibadah yang ia lakukan.

oOo

Waktu berlalu, dari pernikahan kami lahirlah seorang anak laki-laki. Kusebut dia Frans, tapi berbeda dengan Maryam yang menyebutnya Ahmad. Aku memberi nama Frans bukan tanpa alasan, tentu saja karena jaman sudah berubah, dan kelak ia harus mengikuti jamannya yang lebih modern. Pernah aku menegurnya,

“Kenapa masih memanggilnya Ahmad. Jaman sudah berubah. Keren sedikitlah!”

Tidak ada tanggapan, dan semua berlalu begitu saja.

Pernah suatu ketika ia benar-benar membuatku jengkel. Ditengah kesibukanku bekerja ia kerap kali menelpon atau mengirim pesan meminta diantar ke rumah Murobbiyah-nya, sebutan untuk guru ngajinya selama ini. Semua itu berlangsung setiap hari selasa setelah setahun pernikahan kami.

“Abi, minta tolong antarkan Ummi Tarbiyah. Tinggal satu jam lagi Tarbiyah dimulai.” begitu pesan yang kerap ia kirim padaku.

Jika aku menolak atau memberi alasan masih sibuk, ia pasti akan membalas pesan atau telpon dengan nada memelas. Kalau sudah begitu aku tidak bisa apa-apa, terpaksa aku pun pulang. Sejak saat itulah pertengkaran kecil sudah menjadi rutinitas di hari selasa. Itu dan itu saja. Aku sendiri sejujurnya enggan untuk mengantar dan menjemputnya. Aku pernah mencoba memperingatkan dia agar berhenti dari rutinitas tersebut, tapi justru dia menangis, membuatku semakin tak sanggup untuk menolak.

“Abi, tolong jangan putuskan Tarbiyah ini. Bukannya Ummi tidak ingin taat pada Abi, tapi sungguh tanpa Tarbiyah ini hati Ummi akan gersang. Hanya satu hari saja Ummi berkumpul membicarakan masalah umat bersama teman-teman. Ummi merasa damai di sana.”

Entah kenapa justru permintaan itu membuka satu pintu dalam hatiku yang sudah lama kututup rapat, tentu saja tentang Islam dan segala problematikanya. Aku mulai penasaran seperti apa Tarbiyah hingga Maryam begitu getol memperjuangkannya.

Ada aktivitas lain yang kadang membuatku kian penasaran. Tak hanya datang ke rumah Murrobiyah-nya, kadang justru teman-temannya datang ke rumah untuk menimba ilmu padanya. Aku sih tidak masalah dengan apapun aktivitas mereka, hanya saja aku takut tetangga berpikir lain saat rumahku dipenuhi wanita-wanita yang berpakaian sama, dan berkumpul di hari yang sama. Apakah tetangga tidak akan berpikir macam-macam tentang hal itu? Misal memelihara aliran sesatlah atau pandangan miring dari mereka.

“Mi, bisa gak sih untuk permintaan satu ini Mami ngertiin Papi? Tolong jagan bawa teman-teman Mami ke rumah, apalagi hampir setiap pekan. Papi takut tetangga mencibir dan berpikir macam-macam.” Pintaku kala itu.

“Astaghfirullah, Bi. Insya Allah Ummi tidak sedikitpun memelihara aliran sesat. Rutinitas ini seperti pengajian biasa, hafaan Al-Quran dan Hadits. Jadi Abi tidak usah mengkhawatirkan pandangan orang. Bukankah pandangan Allah jauh lebih penting.” Sahutnya dengan tenang.

Aku sedikit tak mampu menahan emosi. Pasalnya aku benar-benar takut jika hal buruk menimpa keluarga ini hanya karena aktivitas istriku.

“Hah.. pokoknya Papi tidak setuju. Atau kalau memang Mami ingin menghidupkan majelis seperti itu, Mami dan teman-teman bisa cari tempat lain. Bukan di rumah ini.” Sergahku tanpa memikirkan bagaimana perasaan dia saat itu, dan kulihat dia tertunduk.

“Tapi Bi, kalau Ummi mencari tempat lain, maka Ummi akan keluar rumah sebanyak dua kali, dan itu akan semakin menyita waktu Abi yang harus antar jemput Ummi. Tolong Abi mengerti, Insya Allah Ibu-ibu tetangga akan paham dengan berlalunya waktu. Ummi juga akan silaturahim kepada mereka.”

“Terserah kamu sajalah! Kalau ada hal-hal buruk terjadi Mami saja yang urus.” Aku mulai kehilangan kendali, dan meninggalkan dia dalam ketertundukan.

“Insya Allah, Bi.”

oOo

Waktu berlalu, usia pernikahan kita memasuki tahun ketiga. Di usia ketiga ini aku bersyukur dengan karunia Allah dengan hadirnya anak perempuan. Kuberi nama dia Jesika, sedangkan istriku tetap seperti biasanya, memberi nama-nama Islam yang menurutku amat jadul, Fatimah.

Jujur aku sendiri merasa aneh dengan pernikahan kami. Sebutan Mami dan Papi menjadi Abi dan Ummi, lalu juga nama anak-anak. Frans menjadi Ahmad. Begitulah realitanya, dan aku tak mampu merubahnya.

Suatu hari pertengkaran hebat terjadi. Akar masalah dari pertengkaran tersebut tetap sama seperti biasanya, aktivitas Tarbiyah Maryam. Beberapa kali sudah kuperingatkan untuk berhenti, tapi ia tetap saja melanjutkan aktivitas tersebut, sampai pada akhirnya aku benar-benar malas untuk menanggapi setiap permintaan dia. Suatu ketika aku benar-benar marah sampai lepas kontrol.

“Dasar istri durhaka. Kau taruh mana ilmu yang selama ini kau pelajari? Kalau memang permasalahan soal mengantar jemput Mami, ya sudah. Mami berangkat dan pulang sendiri saja! Amankan? Jujur sajalah, sejak dulu Papi tidak pernah respek dengan aktivitas Mami. Jadi tolong berhenti ikut tarbiyah.”

“Abi, kalau bukan karena menjaga kehormatan Ummi sebagai istri, pastilah Ummi sudah keluyuran di luar sana tanpa izin dari Abi. Ummi hanya takut Allah murka, di saat Ummi telah memiliki mahram, tapi justru pergi sendirian. Ummi minta maaf jika selama ini merepotkan Abi, jika selama ini sudah mengambil waktu kerja Abi hanya untuk mengantar jemput Ummi.

Jika memang Ummi salah, Abi silakan mencambuk Ummi. Terus terang, kadang Ummi merasa iri dengan teman-teman lain yang begitu bahagia diantar suami ketika Tarbiyah, dikecup keningnya sebelum berpisah, lalu dijemput kembali dengan penuh kesabaran meskipun mungkin mereka jauh lebih sibuk dari Abi. Bahkan Ummi cemburu melihat teman Ummi yang selalu diantar jemput suaminya, padahal jarak rumah tidak jauh dari tempat Tarbiyah. Sekali lagi Ummi mohon maaf.” Airmatanya deras mengalir.

Mendadak rasa bersalah merayap membelit hatiku. Namun buru-buru kutepis semua dan kutinggalkan dia begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.

Ditahun kelima pernikahan kami, istriku masih tetap dengan aktivitas yang sama. Suatu hari ia memintaku untuk mengantarnya Tarbiyah. Kuantarkan saja dia karena memang hari ini aku tak banyak kerjaan. Sebelumnya kuperingatkan bahwa ia harus pulang dengan naik angkot. Namun sms meminta jemputan kembali datang. Kupikir dia benar-benar tak mendengarkan peringatanku.

“Abi, Ummi sudah selesai Tarbiyah, bisa jemput Ummi.”

Begitu isi SMS darinya, dan kubaikan begitu saja tanpa balasan.

Pesan berikutnya datang, “Afwan Abi, teman-teman Ummi sudah dijemput suami mereka. Sedangkan pemilik rumah hendak pergi. Hari juga sudah magrib. Bagiamana Abi?”

Kembali kuabaikan pesan tersebut. Kuletakkan HP begitu saja di atas TV. Setiap pesan darinya hanya kubaca, lalu berlalu begitu saja tanpa satupun balasan dariku.

Malam pun tiba, aku mulai khawatir karena istriku belum juga pulang. Bahkan tak ada kabar lagi darinya. Seharusnya sudah dua jam lalu ia tiba dirumah. Aku pun mulai cemas dan berpikir macam-macam. Sebenarnya dia ada di mana? Apa dia lupa jalan pulang? Aduuh.. kenapa aku cemas seperti ini?

Beberapa kali kutelpon pun tak ada jawaban. Apalagi Frans mulai rewel. Jujur, aku mulai kebingungan dan takut, tidak biasanya pula Maryam Tarbiyah sendirian seperti ini. Biasanya ia mengajak Frnas dan Jesika. Ya Allah di mana dia?

Seperti ada yang menyumbat batang bronkus, aku merasa dadaku ngilu. Rasa rindu yang menyesakkan. Ada apa ini? Sebelumnya aku tak pernah sekhawatir ini? Tak merindukan dia sehebat ini?
Beberapa jam berlalu, sebuah panggilan datang, segera kuangkat karena itu telpon dari istriku. Setidaknya kekhawatiranku mereda mengetahui telpon darinya.

“Mami, di mana? Kok belum nyampek?” tanyaku cemas.

“Maaf, Pak. Ini HP milik istri Bapak? Begini Bapak, jam tiga sore tadi istri Bapak mengalami kecelakaan. Beliau ditabrak mobil saat keluar dari masjid, sepertinya hendak menyeberang. Tubuhnya terpental dan menghantam tembok pagar masjid. Mobil yang menabrak sudah melarikan istri Bapak ke rumah sakit.”

Seperti ada granit yang menumbuk jantungku. Aku tak percaya apa yang telah kudengar. Tubuhku gemetar hebat, airmataku deras mengalir. Bahkan HP yang ada dalam genggamanku terlepas begitu saja. Segera tanpa pikir panjang aku bergegas menuju rumah sakit.

oOo

Kudekati tubuhnya yang kaku bersimbah darah. Setengah tak percaya, aku berusaha sekuat tenaga menahan robohnya hati yang tiba-tiba. Penyesalan besar menggerogoti jiwa. Aku bahkan belum sempat meminta maaf. Andai saja aku bersedia mengantarnya Tarbiyah. Andai saja aku tidak banyak protes dan mengeluh. Andai aku lebih mengerti. Andai aku memahami apa keinginannya, bukan terus-terusan menyalahkannya. Mungkin saja masih ada kesempatan untukku membuktikan diri sebagai suami yang baik.

Tubuhku lemas, merosot di sisi brankar tempat di mana ia berbaring. Sudah terlambat, tidak ada lagi kata maaf yang bisa ia dengar dariku. Bahkan aku belum sempat membuatnya bahagia. Ya Allah, cobaan apa ini? Kenapa aku begitu bodoh? Aku bahkan tak pantas disebut suami. Aku telah membuatnya menderita.

Ya Allah, betapa aku telah menyia-nyiakan bidadarimu. Betapa aku telah membiarkan dirinya terluka di saat aku sendiri angkuh dalam kebodohan. Ya Allah, kasihani istriku..

Apa yang bisa kulakukan?

Tidak ada.

Hanya penyesalan berujung duka.

Kutelisik kembali masa lalu kami. Ya Allah, betapa aku hanya bisa menangis menyesal. Istriku adalah wanita yang taat dan menjaga kehormatan, tapi aku mengabaikan hal itu. Bahkan dalam detik-detik kematiannya, ia masih dalam balutan jilbab syar’i. Begitu luar biasa-nya dia. Namun ada satu hal yang kusyukuri di antara semua duka yang kurasakan, Allah telah membuka hatiku, dan sejak saat itu aku membuka hati dan melanjutkan perjuangan istriku dalam Tarbiyah. Juga menjaga mujahid-mujahidah kita dengan penuh cinta.

Terima kasih istriku, terima kasih atas semua yang kau berikan, semua yang bahkan tak mampu kubalas sedikitpun. Perhatian, ketulusan cinta dan kerhomatanmu adalah harta paling berharga yang pernah kumiliki. Selamat jalan istriku. Semoga Allah menerima semua amal ibadahmu, dan kelak kita bisa bersama kembali disurga-Nya.