Wahai Para Calon Pasangan, Menikah Bukan untuk Bahagia

Menikah Bukan untuk Bahagia – Kebanyakan orang menikah untuk mendapatkan kebahagiaan. Padahal, menikah tidak selalu bahagia. Bahkan, ada juga selama pernikahannya tidak pernah bahagia. Untuk itu, perbaiki niat sebelum melakukan pernikahan.

Menikah Tak Sekedar Mencari Kebahagiaan

Jangan pernah berpikir tujuan menikah untuk bahagia semata, untuk menjauhkan kita dari kesepian dan kesendirian. Ingatlah bahwa menikah untuk beribadah kepada Allah.

Ustadz Salim A Fillah memaparkan sebuah alasan konkrit kenapa menikah itu bukan untuk bahagia. Beliau menyampaikan, “Kita menikah bukan untuk berbahagia. Kita menikah untuk beribadah kepada Allah. Pernikahan itu menjadi bagian dari misi ibadah kepada Allah. Maka, di dalam pernikahan itu, supaya kita mampu melaksanakan visi ibadah kepada Allah, yang kita cari adalah keberkahannya.

Karena, berkah itu ziyaadatul khairi fii kulli hal, bertambahnya kebaikan di segala keadaan. Semakin mesra kepada Allah di semua peristiwa, semakin dekat kepada Allah di berbagai ujian hidup-lapang ataupun sempitnya, susah ataupun senangnya, kehilangan ataupun mendapatkannya.

Semua keadaan itu dalam rangka ibadah. Maka kita mengharapkan ada barakah. Di mana letak kebahagiaan? Bahagia hanya makmum bagi keduanya. Kebahagiaan hanyalah makmum di dalam kehidupan pernikahan kita. Hanyalah makmum bagi ibadah dan berkah yang kemudian kita tegakkan.”

Ingatlah bahwa perempuan dan laki-laki adalah dua sosok yang berbeda. Akan ada banyak goncangan dan batu-batu besar yang akan menjadi rintangan dalam perjalanan rumah tangga. Maka sudah sepatutnya hal ini diketahui, sehingga tak berpikir bahwa menikah pastilah kebahagiaan saja yang didapat, atau menikah untuk lari dari masa jomblo dan punya pasangan yang dapat dipamerkan.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (Q.s ar-Ra’d: 13: 28)

Bekal-bekal dalam Membangun Rumah Tangga

Memutuskan menikah tanpa memiliki kesiapan ilmu sama halnya memutuskan mendaki gunung tanpa membawa perlengkapan untuk mendaki, atau bahkan tanpa latihan terlebih dahulu. Maka apa yang akan terjadi? Ketika gagal dan jatuh, rasa yang didapat akan sangat menyakitkan. Keterpurukan yang melalaikan pada Allah. Sebab itu jangan berpikir menikah untuk bahagia, dan sebab itu pula bagi pasangan yang akan menikah harus tahu ilmunya.

Jika Anda ingin pernikahan Anda bahagia, maka ada bekal-bekal yang harus anda ketahui, yaitu:

Dengarkan Istrimu, dan Keluhannya

Perhatikan dia, dan sebisa mungkin luangkan waktu untuk sekedar mendengar cerita dan keluh kesahnya setiap hari. Ingatlah, bahwa wanita kadang hanya ingin didengar. Cukuplah mendengarkan, Anda akan mengobati setiap lelah hatinya.

Hargai Privasinya

Jangan memaksakan kehendak. Kadang wanita ingin menyendiri untuk merenung, maka beri dia kesempatan. Buatlah dia nyaman selayaknya dia membuat Anda nyaman sebagai suami.

Jangan Ragu untuk Meminta Maaf Padanya

Jangan berpikir bahwa sebagai suami anda selalu benar. Jika anda salah, maka segeralah meminta maaf. Sebab dengan anda sering meminta maaf akan menutup pintu iblis dalam menggoda rumah tangga anda.
“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman.” (Q.s. Fushshilat (41): 34)

Jadilah Suami yang Mengalah pada Istri

Tersenyum dan cobalah bersikap santun padanya. Mengalah membuat anda mengajarkan kedewasaan pada istri anda.

Kurangi Kecaman

Anas bin Malik berkata, “Aku telah melayani Rosulullah selama sepuluh tahun. beliau tidak pernah bersabda kepadaku ‘Mengapa kau lakukan itu?’ dan ‘Mengapa tidak kau kerjakan itu?’ kurangilah kecaman pada istrimu, jangan minta dan menyuruh ini itu.

Bersedia Melupakan Kesalahan Istri

Hasan Al-Basri berkata, “Sikap mau melupakan kesalahan orang selalu menjadi bagian dari seorang yang toleran.”

Sebab itu, perbedaan haruslah menjadi perjuangan untuk bisa saling mengerti. Kebahagiaan sebuah pernikahan tidak akan pernah tercipta tanpa perjuangan untuk saling mengerti, sehingga jangan berpikir bahwa setelah menikah semua serba mudah dan bahagia. Ingatlah! Perjalanan sebuah rumah tangga tak hanya dipenuhi bunga, tapi juga onak dan duri.