Masihkah Kamu Menunda Pernikahan?

Menunda pernikahan sama halnya dengan menunda rezeki. Menunda menjemput jodoh sama halnya menunda pahala dari Allah. Kalau sudah begitu, apa masih mau ditunda-tunda terus? Apakah harus berkepala tiga dan mendekati ajal baru mempersiapkan pernikahan? Disaat yang sama kita tidak tau kapan masa hidup kita akan berakhir.

Pemuda saat ini lebih berorientasi pada materi. Otak dan hatinya dipupuk terus oleh perkembangan jaman yang membuat mereka lalai dengan kewajiban mereka, karena hampir 75% isi otaknya adalah materi dan materi. Mereka terus disibukkan oleh materi bahkan sistem yang membuat mereka menunda pernikahan karena alasan belum mapan atau bahkan belum lulus kuliah. Banyak alasan sepele yang sesungguhnya mampu diatasi andai sungguh mereka menikah.

Jangan Menunda Usia Pernikahan

Mari kita telisik ulang kehidupan sahabat di jaman Rosulullah, di mana para pemuda penggerak perubahan justru lebih mendahulukan kewajibannya pada Allah daripada kewajibannya memperbanyak harta. Contoh saja Amr bin Al’Ash. Sejarah mencatat bahwa usia beliau dengan sang putra hanya terpaut beberapa tahun. Nah sudah bisa dibayangkan berapa usia Amr bin Al’Ash menikah? Tidak ada yang berkurang, bahkan rezeki orang menikah akan bertambah. Jika masih kuliah, pasti Allah akan mempermudah.

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400).

Bahkan Rosulullah menikahi Aisyah bin Abu Bakar ketika umur Aisyah Sembilan tahun. Dari hadits di atas pun tidak disebutkan harus menikah pada umur berapa, karena kewajiban menikah datang pada mereka yang sudah siap.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba–hamba sahayamu lelaki dan hamba-hamba sahaya yang perempuan, Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur [24] : 32)

Jangan menunda usia pernikahan, justru yang harus dilakukan adalah mempercepat kesiapan kita untuk menikah. Karena dengan menikah, Insya Allah selalu ada kebaikan. Menjaga kehormatan dan terutama hati yang mudah kotor andai kita tak segera menambatkan hati pada pendamping hidup.

Hampir 50% pemuda yang tinggal di negara maju menunda pernikahan dengan alasan karir. Kita bisa melihat Korea Selatan contohnya, nyaris sebagian besar penduduk korea menikah dalam usia kepala tiga dengan alasan karir.

Persaingan yang amat ketat dalam karir dan popolaritas memaksa mereka untuk menguras pikiran dan memfokuskan pada satu tujuan, materi. Bukan lagi membina rumah tangga. Bagi mereka menikah bisa diatur setelah sukses karir. Lalu, apakah kita harus mengikuti budaya mereka yang notabennya non-muslim?

Menikah Juga Tak Harus Nunggu Lulus Kuliah

Banyak di luar sana yang telah membuktikan bahwa menikah di usia kuliah justru memberikan banyak motivasi. Jika anda pernah membaca buku Gen Halilintar, anda benar-benar akan percaya bahwa menikah usia muda ketika atau masih kuliah justru membawa berkah besar. Penulis buku tersebut, Halilintar menikah bersama Genie ketika usia mereka masih kuliah semester muda. Gen Halilintar bahkan terlah menjadi inspirasi kelurga masyarakat Indonesia. Dengan sebelas buah hatinya, ia menjadi sosok pengusaha sukses.

Nah, apakah kuliah masih menjadi alasan?

Mulailah berpikir besar. Allah tidak mungkin mempersulit hidup hamba yang menikah karena Allah. Tidak pernah ada dalam sejarah orang menikah terus menjadi miskin atau sengsara hidup. Tidak ada sama sekali. Allah telah menjamin rezeki bagi siapa saja yang menikah.

“.. Jika mereka faqir. Allah akan mengkayakan mereka dari karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahuinya.” (An Nur 32)

Sejarah menyebutkan bahwa Masyhur, adalah salah satu sahabat Rosulullah yang miskin. Dia diberi solusi untuk menghilangkan kemiskinan dengan cara menikah. Di awal pernikahan, kondisi ekonomi masih sulit. Namun Rosulullah tetap memberinya motivasi, hingga akhirnya ia menjadi seorang supplier tekstil terbesar di Madinah. Jadi, apa yang ditunggu? Bukankah Rosullah telah mengajarkan pada kita, dan dia tidak mungkin salah.