Muhammad Al-Fatih: Panglima Perang Penakluk Konstatinopel

Muhammad Al-Fatih – Siapa yang tidak kenal Muhammad Al-fatih? Sang penakluk Konstatinopel di usia yang masih sangat muda. Dialah sang pembukti perkataan nabi bahwa konstatinopel akan ditaklukan.“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Masa Muda Al-Fatih

zakylife.wordpress.com
zakylife.wordpress.com

Al-Fatih dilahirkan di Edirin 1423. Edirin merupakan pusat pemerintahan pada masa kekuasaan Dinasty Utsmani. Al-Fatih sendiri merupakan putra dari seorang sultan, yaitu Murad II yang hidup setelah masa legenda pahlawan perang Salib, yaitu Salahuddin Al-Ayyubi. (Baca Juga: Sa’ad Bin Abi Waqqash: Pelepas Anak Panah Surga)

Sejak kecil Al-Fatih telah mendapat banyak ilmu dari para gurunya. Ia dididik oleh para ulama terkemuka di zamannya. Salah satu guru besarnya yaitu Asy-Syeikh Al-Kurani, yang diperbolehkan memukul Al-Fatih andai ia membangkang perintah gurunya.

Tak hanya dididik, tapi Al-Fatih juga mencermati bagaimana usaha sang ayah dalam upaya penaklukan Konstatinopel. Upaya-upaya tersebutlah yang membuat Al-Fatih memiliki keinginan besar untuk membuktikan sabda Rosulullah bahwa Konstatinopel akan tertaklukan.

Selain Asy-Syeikh Al-Kurani, Al-Fatih juga mendapat bimbingan dari gurunya yang lain yaitu Syeikh Ak Syamsuddin, yang mengajarkan Al-Quran, Hadits, Fiqih, Bahasa, matematika, Ilmu Falak, Sejarah, dan strategi perang. Tak hanya itu, bahkan Syeikh Ak Syamsuddin juga meyakinkan Al-Fatih bahwa dirinyalah sosok yang dimaksud nabi pada Hadits-nya. Dialah yang kelak menaklukan Konstatinopel.

Strategi Penaklukan Konstatinopel

www.jurnalislam.com
www.jurnalislam.com

Tahun 1451, Al-Fatih menaiki takhta di usia 19 tahun, dan ia mulai menyusun strategi perang untuk menawan kota Bandar (kota-kota pelabuhan). Al-Fatih berhasil menghimpun 250.000 pasukan yang ia latih dengan sungguh-sungguh. (Baca Juga: Khalid Bin Walid: Pedang Allah yang Terhunus)

Mereka bahkan selalu diingatkan akan sabda Rosulullah bahwa Kontatinopel akan ditaklukan, dan merekalah pasukan yang akan menaklukan Konstatinopel.Upaya penaklukan Konstatinopel sebenarnya sudah dilakukan sejak sebelum Al-Fatih dilahirkan. Usaha pertama di tahun 44 H, pada masa Mu”awiyah bin Abi Sufyan.

Upaya yag sama juga dilakukan pada masa Umayyah, dinasti Abbasyiah. Bahkan usaha tersebut tetap berlangsung pada masa kepemimpinan Harun al-Rasyid tahun 190 H. Hari jumat 6 April 1453 H, Al-Fatih bersama gurunya Syeikh Ak Syamsudin, merencanakan penyerangan Konstatinopel dengan 250.000 pasukan dan meriam.

Pasukan Al-Fatih tiba di Konstatinopel pada hari kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. di hadapan para pasukannya, sebelum penyerangan dimulai, Al-Fatih berkhutbah terlebih dahulu, juga mengingatkan kembali akan sabda Rosulullah, bahwa Konstatinopel akan tertaklukan.

Penyerangan Konstatinopel

rizalnurshidiq.blogspot.com
rizalnurshidiq.blogspot.com

Kota dengan benteng lebih tinggi dari 10 meter itu memang tak mudah tertaklukan. Di luar benteng pun dilindungi parit sedalam 7 m. Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis. Sedang dari laut Marmara, pasukan Turki harus berhadapan dengan pasukan Genoa yang dipimpin oleh Giustiniani.

Di arah timur, armada laut masuk ke selat sempit Golden Horn, yang ketika itu sudah dilindungi dengan rantai besar, hingga kapal perang ukuran kecilpun tak akan mampu lewat.Takbir terus membahana di langit Konstatinopel, mengobarkan semangat juang tanpa kenal menyerah.

Berhari-hari benteng Konsttainopel tak mampu ditembus, kalaupun runtuh, pasukan lawan akan segera membuat pertahanan baru. Pasukan Al-Fatih pun mencoba menggali terowongan di bawah benteng. Namun usaha tersebut ternyata juga gagal. Strategi baru diputuskan oleh sang panglima perang.

Baca Juga: Thariq bin Ziyad: Sang Penakluk Andalusia

Ide yang terdengar konyol untuk dilakukan selama satu malam. Pertahanan lawan yang cukup lemah adalah pada Teluk Golden Horn. Ide untuk memindahkan kapal-kapal pun dilakukan. Ini adalah ide tergila yang pernah ada pada masa itu. Hanya dalam satu malam 70-an kapal bisa memasuki Teluk Golden Horn. Taktik perang ini telah diakui oleh sejarawan sebagai taktik perang terbaik sepanjang sejarah.

Penaklukan Konstatinopel

leonedeleste.blogspot.com
leonedeleste.blogspot.com

Tanggal 27 Mei 1453, dua hari sebelum kemenangan. Al-Fatih bersama segenap pasukan perang melakukan pembersihan diri dengan sholat dan banyak berdoa, dan dzikir. Tepat pada jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, setelah sehari istirahat perang, pasukan Ustmani dibawah komando Al-Fatih kembali melakukan serangan secara total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian army di lapis kedua dan terakhir pasukan elit Yanisari.

Constantine dari pasuka lawan akhirnya gugur. Sedangkan Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan. (Baca Juga: Salahudin Al-Ayubi: Singa Perang Salib)

Tentara Utsmani akhirnya mampu menembus kota Konstatinopel melalui pintu Erdine dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang akhirnya mengantarkan mereka pada kemenangan, sekaligus membuktikan sabda Rosulullah bahwa Konstatinopel tertaklukan oleh panglima perang dan pasukan perang terbaik. Konstatinopel akhirnya jatuh. Penduduk kota segera berkumpul di Hagia Sophia. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid, yang sebelumnya adalah greja terbesar di sana.

Video Muhammad Al-Fatih