Nobuyuki Suzuki, Mantan Pemeluk Shinto, Mendapat Hidayah dari Suara Azan

Nobuyuki Suzuki, paling kanan berkacamata

Nobuyuki Suzuki lahir di Tokyo, Jepang. Namun, kini ia tinggal di Surabaya bersama istrinya. Dulu ia penganut keyakinan Shinto, tapi sekarang ia memilih agama Islam. Menurutnya, di dalam Islam tidak ada paksaan untuk masuk menjadi seorang muslim. Beda dengan keyakinannya dulu, semua orang dipaksa untuk mengikutinya.

Selain itu, ia melihat orang-orang Islam itu kompak saat menjalankan ibadah shalat berjamaah. Menurutnya, gerakan-gerakan dalam shalat juga sehat. Dari ketertarikan inilah, ia mulai belajar tentang Islam melalui teman-teman satu kos ketika kuliah dulu.

Sebenarnya ketertarikannya mempelajari Islam muncul saat ia menjadi sukarelawan di Yordania. Di negeri tersebut, saat mendengar kumandang azan untuk kali pertama, rasanya seperti menemukan air di tengah padang pasir.

Setelah tugasnya selesai di Yordania, Nobuyuki Suzuki memutuskan ke Indonesia untuk belajar ilmu theater lebih dalam di Bandung dan Jakarta. Di Indonesia, ia begitu senang mendengar suara azan. Ia tidak hanya belajar theater, tapi juga melaporkan setiap peristiwa besar yang terjadi di Indonesia lewat telepon dan disiarkan televisi di Jepang.

Ketika ia melaporkan satu peristiwa di Indonesia secara langsung, tepat bersamaan dengan kumandang azan sehingga terdengar sampai ke Jepang. Orang yang menyiarkan tersebut itu langsung bertanya kepadanya, “Suara apa itu?” Ia menjawab, “Itulah suara azan, sebuah panggilan untuk menjalankan shalat bagi umat Islam.”

Nobuyuki Suzuki semakin tertarik untuk belajar Islam, apalagi lingkungannya untuk menimba ilmu theater mayoritas muslim. Ia begitu kagum dengan Indonesia dan Islam. Budaya di Jepang dan Indonesia begitu berbeda, apalagi soal kepercayaan. Orang-orang Jepang memang percaya adanya Tuhan, tapi mereka tidak punya agama. Yang dipikirkan orang Jepang hanya bagaimana menjalin relasi dengan banyak orang, tanpa memikirkan bagaimana caranya membangun hubungan dengan Tuhan. Akhirnya ia sadar bahwa agama dalam kehidupan di dunia itu penting.

Meskipun ia belum mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi ia sudah mulai ikut teman-temannya untuk melakukan ibadah puasa di bulan Ramadan. Tak hanya itu, ia ikut shalat di masjid. Tapi ia masih kesulitan untuk belajar mengaji, karena lidahnya masih sangat kaku untuk membaca Alquran. Jangankan membaca Alquran, berbahasa Indonesia dengan baik saja ia masih belum bisa. Misalnya menyebutkan kata rezeki, ia selalu mengatakan rizuki. Tapi, ia tidak pernah menyerah, ia terus belajar dan terus menggali tentang Islam dari orang-orang di sekitarnya.

Setelah sekian lama Nobuyuki Suzuki mempelajari tentang Islam, akhirnya ia memilih Islam sebagai agamanya. Ia memutuskan untuk mengucap kalimat syahadat pada April 2014 di Masjid Al Akbar Surabaya dengan dibimbing oleh Ustad Muchtar. Ia dinyatakan sah sebagai orang muslim sekaligus mendapatkan sertifikat dari masjid. Tidak lama kemudian ia juga menikah dengan seorang muslimah di Surabaya.

Sekarang ia tinggal di Surabaya dan sehari-hari menjalankan bisnis management artis di Surabaya. Meskipun ia sudah menjadi mualaf, tapi ia masih terus belajar tentang Islam dari istrinya. Menurut istrinya, sekarang ia cukup lancar untuk membaca Al-Qur’an. Bacaan surat-surat pendek juga banyak yang hafal. Bahkan, setiap hari ia menjadi imam shalat untuk istrinya. Ia  merasa sangat damai dan tenang menjalani kehidupan dengan berpegang pada agama Islam.

Saat ini, Nobuyuki Suzuki terus berdoa kepada Allah agar keluarganya di Tokyo, Jepang juga bisa memeluk Islam karena Islam merupakan agama yang membawa damai, punya pedoman yang kuat, dan punya aturan bagi setiap umat-Nya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang buruk.