Nyawa Selamat Berkat Sedekah

Bagas merasakan betul keberkahan dari sedekah. suatu hari ia sakit parah dan terindikasi menderita HIV. Bayang-bayang kematian pun membayangi hidupnya. Namun siapa sangka,berkat sedekah, ia kemudian dinyatakan negatif sebagai penderita HIV. Nyawanya pun akhirnya selamat.

Keajaiban sedekah telah dirasakan oleh Bagas. Pemuda berumur 29 tahun tersebut beberapa tahun yang lalu pemah “ditegur” olah Allah SWT untuk menghentikan kebiasaan maksiatnya. Beruntung, Bagas segera bangklt dan bertobat sehlngga ia pun mendapatkan pertolongan oleh Allah SWT.

Bagai terlahir beragama Islam dengan masa kecil yang normal. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang tidak terlalu religius, tetapi juga tidak terlalu sekuler. Namun ketika beranjak remaja, ia terperosok dalam masa-masa kelam.

Saat itu Bagas yang masih muda dan belum berkeluarga sudah memiliki uang ratusan juta. Bahkan kalau dihitung mungkin hampir 1 miliar. Namun banyaknya harta itu membuatnya liar. Akhirnya Bagas hidup sebagai seorang pemuja harta. Sebagian besar rezekinya adalah rezeki haram. Bermain judi, mabuk, dan berzina sudah seperti kebutuhannya sehari-hari. Bertahun-tahun ia jalani hidup seperti itu dan sekilas ia tampak nyaman-nyaman saja.

Tapi dari sekian banyak keburukannya, ada satu hal yang tanpa disadari mungkin itu yang menjadikan pintu masuknya hidayah Allah kepadanya, yakni ia gemar memberi atau bersedekah, bahkan terbilang loyal.

Dulu Bagas belum tahu ilmu sedekah Ustad Yusuf Mansur. Ia hanya sering memberi uang ke orang yang sedang sakit parah dengan cara menitipkan ke taman yang lain. Ia merasakan kepuasan batin yang tak ternilai ketika melakukan itu. Namun demikian Bagas masih larut dalam dunia kelam hingga datang teguran Allah. Tiba-tiba ia sakit. Saat ke rumah sakit, tiba-tiba dokter memvonisnya kemungkinan terjangkit HIV.

Bagas kaget bukan main, ia pulang dan selama perjalanan di dalam taksi, hidupnya seolah sudah hampa. Sesampainya di rumah, ia sudah tidak sanggup lagi melihat wajah ibu dan adik-adiknya. Ia langsung mengurung diri di kamar beberapa hari, tidak masuk kerja. Akhirnya Bagas browsing internet dan mencari info tentang penyakit dan tempat test yang menjaga privasinya. Akhirnya ia temukan tempat itu di Jakarta, ia beranikan diri ke sana untuk test. Ketika konsultasi dengan psikolognya, Bagas menangis sejadi-jadinya.

“Hidup saya rusak. Saya sampah. Seandainya ini negatif saya mau berubah,” begitu ucapnya.

Dua minggu menunggu hasil, hampir tiap malam Bagas Tahajud. Ia minta kepada Allah SWT agar diberi kesempatan. Bagas hanya bisa menangis dan menangis. Ini cobaan terberat dalam hidupnya.

Akhirnya waktu pengambilan hasil telah tiba. Ia persiapkan batin dan fisiknya menyambut hasil tes itu. Bahkan andaikan hasil tes itu positif, ia berencana menghilang. Ia mau mati di tempat orang tidak mengenalnya.

Alhamdulillah, ternyata hasilnya non reaktif alias negatif. Bagas langsung sujud syukur dan menangis haru.

“Terima kasih ya Allah. Saya akan buktikan pada-MU, saya akan berubah”.

Sejak saat itu Bagas berubah total dalam hidupnya menjadi lebih religius. Ia pun juga semakin kencang sedekah. Ia bersyukur dapat istiqomah sedekah dan merasa seolah nyawanya terselamatkan berkat sedekah.