Pentingnya Latihan Fisik Demi Kebugaran Tubuh

Latihan fisik atau olah raga sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat terutama di perkotaan. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya sarana olah raga serta taman yang digunakan masyarakat untuk latihan fisik. Latihan fisik atau olah raga bertujuan untuk mendapatkan manfaat kesehatan di samping untuk bersosialisasi.

Meskipun demikian, latihan fisik atau olah raga baru dapat bermanfaat secara maksimal bila dilakukan sesuai dengan prinsip latihan. Antara lain, secara baik, benar, teratur, dan terukur (BBTT). Latihan yang “baik” artinya dilakukan sesuai kondisi fisik dan kesehatan seseorang. Latihan fisik yang dimaksud adalah kegiatan di luar aktivitas fisik harian.

Baca juga : Tips Hidup Sehat Bersama Alam

Latihan fisik yang “benar” artinya dilakukan dengan tahapan-tahapan pemanasan dan peregangan, lalu latihan inti, serta pendinginan dan peregangan. Kemudian, prinsip latihan yang “teratur” berarti melakukan latihan fisik atau olah raga dengan frekuensi teratur, seperti 2 kali seminggu, 3-4 kali seminggu, dan sebagainya.

Latihan fisik juga harus “terukur” yang memiliki formula khusus. “Setiap kali berlatih fisik, yang harus dicapai saat latihan adalah denyut nadi latihan (DNL) sebesar 60%-70% dari denyut nadi maksimal (DNM). Untuk DNM dapat dihitung berdasarkan ramus 220 dikurangi umur seseorang.

Apabila latihan fisik tidak dilakukan dengan prinsip BBTT tersebut maka dapat menyebabkan overtraining atau kelebihan dosis latihan. Untuk menghindarinya, disarankan sebelum melakukan latihan fisik/olah raga seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan dan kebugaran jasmani.

Pemeriksaan kesehatan jasmani berupa pemeriksaan fisik, tekanan darah, denyut nadi, tinggi badan, berat badan, serta ada atau tidak riwayat cedera olah raga. Untuk pemeriksaan kebugaran jasmani meliputi pemeriksaan kebugaran jantung dan paru, kekuatan dan daya tahan otot, kelenturan otot sendi serta komposisi tubuh. Pemeriksaan kebugaran hanya dapat dilakukan oleh tenaga ahli terlatih. Dari pemeriksaan kebugaran akan didapatkan tingkat kebugaran seseorang yang menjadi dasar untuk menentukan dosis latihan.

Baca juga : Ingin Tetap Sehat dan Cantik Saat Hamil? Ini Tipsnya!

Biasanya, yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan jantung dan para-paru. Bagi mereka yang keabgaran jantung dan para-parunya kurang, beberapa kegiatan fisik yang disarankan hanyalah jalan kaki, joging, serta bersepeda. Bagi mereka yang kebugarannya di ambang batas cukup ditambah dengan senam dan berenang. Sedangkan bagi mereka yang kebugarannya baik dapat dilengkapi dengan olah raga permainan. Idealnya, latihan fisik ini dilakukan 2-3 kali seminggu, dengan durasi 20-30 menit bagi yang menginginkan pembakaran lemak (weight management), atau 40-50 menit bagi yang membutuhkan ketahahan tubuh (endurance).

Hasil pemeriksaan kebugaran serta perhitungan pengukurannya tidak bergantung pada gender, bahkan usia. Meski demikian, ada standar denyut nadi normal yang bisa dicapai untuk mencirikan tubuh yang lebih bugar, yakni denyut nadi yang lebih tinggi sekitar 80-100 kali per menit dalam kondisi belum melakukan latihan fisik.

Berbeda dengan mereka yang mengalami overtraining, biasanya, denyut nadinya lebih rendah. Hal itu bisa berpengaruh pada performa harian yang biasanya mudah lelah, pusing, tensi darah tinggi, serta cepat terkena kram otot. Yang dikhawatirkan adalah overtraining ini bisa mengarah ke kondisi yang lebih gawat, misalnya, cedera otot jantung dan paru. Yang secara tidak langsung terasa, misalnya, melambatnya metabolisme tubuh.

Untuk memulmkan kondisi overtraining, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Antara lain mengurangi porsi Untuk memulihkan kondisi overtraining, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Antara lain mengurangi porsi latihan, memperbanyak waktu istirahat untuk kerja otot dan yang paling penting adalah memeriksakan kebugaran tubuh. Meski tubuh harus diistirahatkan, namun harus senantiasa bergerak, jangan dihentikan sama sekali.

Salah satu bentuk latihan fisik yang disarankan bagi penderita overtraining adalah jalan kaki santai selama 30 menit atau bersepeda santai selama 30 menit yang dilakukan 2-3 kali dalam seminggu.