Perjuangan Rasullah dan para Sahabat dalam Perang Uhud

Perang Uhud – Sejarah mencatat bahwa perang Uhud terjadi pada bulan Syawal. Perang Uhud merupakan perang balas dendam atas kekalahan kafir Quraisy di perang badar. Sekaligus juga mengembalikan nama baik mereka sebagai kaum terhormat, dan tak mau direndahkan oleh kaum Muslimin. Adapun penyebab lain berkorbarnya perang ini lantaran mereka takut terhadap kaum Muslimin yang mengancam akan menghentikan jalur perdagangan ke Syam.

Persiapan Perang

hatikering.wordpress.com
hatikering.wordpress.com

Kaum kafir Quraisy menyiapkan 3000 tentara perang, 100 tentara kavelari dan 700 tentara berbaju zirah. Pasukan di sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah ibn Abi Jahal, dan pasukan sayap kanan dipimpin oleh Khalid Bin Walid. Sedangkan pasukan muslimin berjumlah 1.000 orang, dengan 2 tentara kavelari dan 100 tentara berbaju zirah, dan Rosulullah membawa dua perisai.

Perang Uhud

Perang Uhud
pelajarislam.com

Begitu besar semangat kaum muslimin sampai mereka membuat yel-yel perang. Mereka bertempur sambil meneriakkan kata, “Bunuh dan bunuh.”

Hamzah ibn Abdil Muthalib menghembuskan napas terakhirnya dengan bangga dalam perang Uhud. Sejarah mencacat dirinya gugur dengan gagah berani membela Islam. Sebelum syahid ia berhasil membunuh Siba’ibn Abdul Uzza. (Baca Juga: Kisah Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW)

Mush’ab ibn Umair tak kalah gagah berani dalam pertempuran, hingga akhirnya ia gugur dan tugasnya digantikan oleh Ali ibn Abi Thalib. Kaum Muslimin benar-benar bertempur dengan sepenuh hati dan ikhlas, tak salah jika mereka berhasil membunuh lawan dengan jumlah cukup besar.

“Dan sesungguhnya, Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu ketika kamu membunuh mereka dengan seizing-Nya.” (QS. Ali-Imran: 152)

Dalam peperangan ini kubu kaum Muslimin kacau-balau karena gempuran dari kaum musyrikin dari berbagai arah. Kekcauan ini menyebabkan kaum Muslimin tak mampu mengenali siapa lawan dan siapa kawan. Akibatnya korban dari kaum Muslimin cukup besar.

Sejumlah tentara Muslimin meninggalkan pertempuran akibat mendengar desas-desus bahwa Rosulullah gugur dalam perang. Sedang sebagian yang lain patah semangat dan mentalnya. Namun ada pula yang masih melanjutkan pertempuran. (Baca Juga: Hijrah Nabi Muhammad beserta Sahabat ke Madinah)

Syahid dalam Peperangan

www.kisahislam.net
www.kisahislam.net

Kepahlawanan sahabat yang gugur dalam perang Uhud diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (QS- Al-Azab: 23)

Sedangkan pasukan Muslimin yang lari dari peperangan sudah tidak lagi memperdulikan Rosulullah, dan Allah berfirman dalam hal ini,

“Sesungguhnya, orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang mereka perbuat (di masa lampau), dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf pada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
(QS. Ali-Imran: 155)

Sesungguhnya Allah telah berjanji akan memberi bantuan mana pada kaum Muslimin, asalkan mereka tetap bersabar dan bertakwa saat musuh menyerang secara tiba-tiba. Namun dalam perang Uhud, nampaknya perpecahan terjadi, membuat keimanan kaum Muslimin goyah dan perlahan banyak yang lari dari peperangan. Bahkan yang gugur dalam perang ini tak sedikit. Banyak sahabat syahid.

Nabi Muhammad SAW meminta kaum Muslimin yang masih tersisa dalam perang menguburkan mereka yang syahid tanpa dimandikan ataupun dishalatkan. Sejarah mencatat satu liang lahat diisi dua sampai tiga jenazah. Dalam hal ini Rosulullah juga menginginkan tak boleh ada satupun jenazah yang dibawa pulang, beliau ingin mereka dimakamkan di tempat mereka gugur.

“Jangan kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (QS- Ali-Imran: 169)

Sesampainya Rosulullah di Madinah, ia mendengar tangisan demi tangisan dari para wanita Ashar yang suami mereka terbunuh. Rosulullah sempat bertanya, “Kenapa tidak ada yang menangisi Hamzah?”

Entah apa yang telah terjadi keesokan harinya, karena ketika Rosulullah terjaga dari tidurnya, ia mendengar mereka meratapi kematian Hamzah. Sejak saat itu Rosulullah melarang bagi siapapun kaum Muslimin untuk meratapi orang yang telah meninggal.

Baca Juga: Inilah Mukjizat-mukjizat Nabi Muhammad SAW

Video Perang Uhud