Sa’ad Bin Abi Waqqash: Pelepas Anak Panah Surga

Sa’ad Bin Abi Waqqash – “Aku adalah orang keempat yang memeluk Islam, dan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah,” Begitulah penuturan Sa’ad sebagai orang ketiga yang memeluk Islam pada masa perjuangan Rosulullah. Dan dia pula orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah, demi kemenangan Islam. 

Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf dibesarkan di tengah-tengah Bani Zahrah dari suku Quraisy. Wuhaib adalah kakek Sa’ad dan paman Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah. Sa’ad dikenal sebagai pemuda yang serius dan cerdas. Ia dibesarkan di Mekah, akan tetapi amat membenci apa yang dianut penduduk Mekah saat itu. Ia membenci praktek penyembahan berhala.

Awal Masuk Islam

www.pelitaperdamaian.org
www.pelitaperdamaian.org

Suatu hari Abu Bakar datang menemui Sa’ad untuk menyampaikan berita besar dari langit tentang datangnya seorang nabi akhir zaman. Ia mengajak Sa’ad untuk menemui Nabi Muhammad di dekat perbukitan Mekah. Ketika itu umur Sa’ad baru 17 tahun, dan dengan mudah ia menerima ajaran dari Nabi Muhammad, sehingga ia menjadi salah satu orang yang pertama kali masuk Islam setelah Abu Bakar, Ali, dan Zaid bin Haritsah.

Sa’ad begitu bahagia memeluk islam, sebab ia telah bermimpi jauh-jauh hari sebelumnya tentang agama yang akan dibawa nabi akhir zaman, “Tiga hari sebelum masuk Islam, saya bermimpi. Seolah-olah saya tenggelam dalam kegelapan yang pekat. (Baca Juga: Khalid Bin Walid: Pedang Allah yang Terhunus)

Ketika saya berada di tengah kedalaman air, tiba-tiba saya melihat cahaya bulan. Lalu saya mengikuti cahaya itu, kemudian saya melihat beberapa orang sudah mendahului saya ke arah cahaya tersebut. Saya melihat Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Shiddiq, lalu saya bertanya kepada mereka, sejak kapan mereka di situ?

Mereka menjawab, sudah satu jam.  Ketika siang saya dapat tahu bahwa Rasulullah telah mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi, dan saya baru paham bahwa Allah menghendaki kebaikan pada saya, serta hendak mengeluarkan saya dari kegelapan kepada cahaya, Islam” (Shuar min hayat al-Shahabah, 283-84).

Ibunya Sa’ad merupakan wanita hartawan keturunan Quraisy bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah. Ia adalah wanita cantik yang memiliki pandangan luas, dan setia pada agama nenek moyang. Bermula dari keislaman Sa’ad inilah cobaan besar dimulai. (Baca Juga: Thariq bin Ziyad: Sang Penakluk Andalusia)

Jelas, ibunya Sa’ad tidak merestui akan agama yang dianut oleh anaknya. Ibunya sangat marah, dan menentang habis-habisan. Bahkan mengancam akan bunuh diri andai Sa’ad masih belum juga kembali pada agama nenek moyang. Pada peristiwa ini Allah menurunkan surat Al-Lukman.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Berjuang Bersama Islam

alam.uniknya.com
alam.uniknya.com

Kaum Quraisy yang tidak menyukai dakwah Nabi Muhammad berusaha keras menghalang-halangi. Suatu ketika saat sedang sholat, sekelompok kaum Quraisy mengganggu dengan melemparkan lelucon kasar. Sa’ad marah dan tak segan memukul salah satu kaum Quraisy tersebut dengan tulang unta, sehingga melukainya.

Peristiwa tersebut adalah pertama konflik berdarah terjadi antara umat islam dan kaum Quraisy. Konflik yang kemudian menjadi hebat hingga berakhir pada banyak peperangan. Sa’ad Bin Abi Waqqash juga terlibat dalam Perang Badar bersama saudaranya yaitu Umair Bin Abi Waqqash.

Selain Perang Badar, Sa’ad juga terlibat dalam Perang Uhud. Dalam Perang Uhud ia menjadi salah satu pasukan pemanah terbaik. Sa’ad merupakan pejuang islam pertama kali yang melemparkan panahnya, dan terkena panah dari pasukan lawan dalam upaya mempertahankan islam.Dalam Perang Uhud Rosulullah bersabda, “Lemparkan panahmu  Sa’ad! … lemparkan!  Tebusanmu adalah ibu dan bapakku.”

Selain keahlian dalam memanah, Sa’ad memiliki keistimewaan yaitu doa yang selalu dikabulkan oleh Allah. Hal ini karena Rosulullah pernah mendoakan Sa’ad. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”

Baca Juga: Muhammad Al-Fatih: Panglima Perang Penakluk Konstatinopel

Memimpin Perang Melawan Kekaisaran Persia

islamislogic.wordpress.com
islamislogic.wordpress.com

Perang ini merupakan salah satu perang besar yag pernah dilakukan umat islam melawan tentara Persia di Qadissyah, dan Sa’ad telah mencatat tinta emas dalam perang tersebut. Sa’ad bersama tiga ribu pasukan yang terdiri dari 99 veteran perang badar, 300 orang yang ikut dalam Baiat Ridwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya yang ikut dalam fathu Makkah bersama Rasulullah. (Baca Juga: Salahudin Al-Ayubi: Singa Perang Salib)

Lalu ada 700 orang merupakan putra para sahabat, dan ribuan wanita ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan. Perang berlangsung selama empat hari tanpa berhenti hingga menewaskan dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Persia. Perang Qadissyah merupakan salah satu perang terbesar dalam sejarah dunia, korban dalam peperangan ini lebih dari 30.000 orang, dan pasukan Muslim meraih kemenangan dalam perang ini.

Video Sa’ad Bin Abi Waqqash