Salahudin Al-Ayubi: Singa Perang Salib

Salahudin Al-Ayubi – Shalahuddin Al-Ayyubi sesungguhnya nama dari Yusuf Bin Najmuddin. Sedangkan nama Shalahuddin adalah nama gelarnya. Al-Ayyubi merupakan nama keluarga atau silsilah keturunannya. Shalahuddin dilahirkan pada tahun 532H/1138 M di kota bernama Tikrit, sebuah wilayah Kurdi Utara Iraq. Ia telah dididik sejak kecil dalam kehidupan yang keras.

Masa Perjuangan Shalahuddin

Hasbunallah.com
Hasbunallah.com

Di usia remaja, Shalahuddin ikut ke Damaskus bersama kerabatnya, ia turut serta menjadi tentara Sultan Nuruddin yang merupakan pemimpin Suriah ketika itu. Shalahuddin merupakan sosok pemberani dan tegas, dalam peperangan yang ia ikuti, ia selalu menampilkan yang terbaik hingga naik pangkat.

Baca Juga: Sa’ad Bin Abi Waqqash: Pelepas Anak Panah Surga

Ia naik pangkat setelah pasukan Salib berhasil dipukul mundur oleh tentara Zangi yang dipimpin oleh pamannya sendiri. Tahun 1169 Shalahuddin diangkat menjadi gubernur (Wazir) menggantikan pamannya yang wafat. Ia menyusun strategi untuk melepaskan Baitul Magdis dari cengkeraman perang Salib setelah banyak melakukan penataan sistem perekonomian dan pertahanan di Mesir.

Ia terkenal sebagai sosok pembela kebenaran, pemberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Bulan september 1174, Shalahuddin berusaha menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah untuk tunduk pada Khalifah Daulat Abbasiyyah di Baghdad. Tak hanya itu, tiga tahun setelah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin berusaha memperluas kekuasaaan hingga Suriah dan Mesopotamia. (Baca Juga: Khalid Bin Walid: Pedang Allah yang Terhunus)

Perluasan Kekuasaan Bani Abbasiyyah

imm-ngawi.blogspot.com
imm-ngawi.blogspot.com

Perluasan wilayah kekuasaan oleh Shalahuddin sungguh menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa. Satu per satu wilayah penting berhasil dikuasainya: Damaskus (tahun 1174), Aleppo (1138), Mosul (1186). Berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Umar Bin Khattab, wilayah Antioch, Damaskus dan Yarusalem berhasil takluk.

Baca Juga: Muhammad Al-Fatih: Panglima Perang Penakluk Konstatinopel

Pada tahun 636 M, orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani dapat hidup rukun berdampingan di bumi Suriah dan Palestina.Perbedaan agama tak membuat mereka lantas saling tipu daya, justru di sini mereka bebas menjalankan ajaran agama mereka masing-masing. Tidak ada gading yang tak retak, kerukunan yang telah berlangsung selama 460 tahun tersebut akhirnya porak-poranda akibat fitnah dan provokasi oleh seorang musuh bernama Ermite.

Perang Salib

www.lampuislam.org
www.lampuislam.org

Provokasi dari Ermite berhasil membangunkan Paus Urbanus untuk mengibarkan bendera perang. Ratusan ribu orang dikirim menuju Yarusalem dan memulai peperangan. Perang Salib untuk yang pertama kali pun tak bisa dihindarkan lagi, dan kota suci tersebut berhasil takluk di tangan musuh pada tahun 1099.

Ratusan ribu umat islam berhasil dibunuh dengan kejam. Pada tahun 1187 Shalahuddin Al-Ayyubi melakukan serangan ke Yarusalem untuk melawan kebiadaban umat Kristen. Pasukan Shalahuddin berhasil memukul mundur umat Kristen dalam pertempuran di Hittin, Galilee tanggal 4 July 1187. Barulah dua bulan setelahnya Baitul Magdis berhasil direbut kembali oleh umat islam. (Baca Juga: Thariq bin Ziyad: Sang Penakluk Andalusia)

Terebutnya Baitul Magdis di tangan pasukan muslim pada perang salib 2 membuat seluruh umat Kristen di bumi Eropa geger. Pada tahun 1189 umat Kristen mengangkat bendera perang sebagai pembalasan dendam, sehingga perang ini disebut sebagai perang salib tiga, dan dipimpin langsung oleh kaisar Jerman yaitu Frederick Barbarossa, Raja Prancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard ‘the Lion Heart’.

Dalam perang ini Baitul Magdis dapat dipertahankan, dan gencatan senjata pun dilakukan oleh kedua belah pihak. Tahun 1192, Shalahuddin dan Raja Richard menandatangani perjanjian damai yang berisi, bahwa Palestina dipecah menjadi dua yaitu pesisir Laut Tengah yang dikuasai umat Kristen, dan wilayah perkotaan diberikan untuk umat Islam.

Akhir Hayat Shalahuddin Al-Ayyubi

supriadisafri551.wordpress.com
supriadisafri551.wordpress.com

Setelah berhasil menaklukan Yarusalem dan melakukan perjanjian damai, Shalahuddin jatuh sakit. Kian hari kondisi kesehatannya kian buruk. Sakit keras membuat tubuhnya tak lagi mampu untuk sekedar pergi ke masjid. Namun Shalahuddin tetap memaksakan diri untuk menunaikan sholat jamaah. Semakin sakit, justru keimanan beliau kepada Allah semakin besar.

Di hari kesembilan dalam kesehatan rendah, Shalahuddin tidak sadarkan diri. Syekh Jafaar menyebutkan “Aku sedang membaca Al-Qur’an di sisi tempat tidurnya, dan ketika mencapai ayat “Dia-lah Allah, dan tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Mengetahui perkara ghaib.”

Salahuddin sudah tidak sadarkan diri untuk beberapa lama, tapi tiba-tiba aku mendengar suaranya yang lemah mengatakan “Sahih. Kau telah bicara benar. Selama 3 hari aku membaca Al-Qur’an di sisi tempat tidur Salahuddin, dan pada hari terakhirnya, aku mencapai ayat “Tidak ada tuhan selain Allah dan kepada-Nya aku beriman.”

Ketika aku melihat wajah Salahuddin, wajahnya menjadi bercahaya, kemudian dia mengucapkan kalimat syahadat, dan meninggal dunia.”Shalahuddin hanya meninggalkan 1 dinar dan 47 dirham, beberapa jubah perang, dan seekor kuda, padahal dia adalah raja Mesir, Siria, Lebanon, dan Yaman. Dialah, Shalahuddin Al-Ayyubi, sang pembebas Yarusalem.

Video Salahudin Al-Ayubi