Sejarah Berdirinya Yayasan Al Ma’soem

Menurut informasi yang di dapat, nama Yayasan Al Masoem itu diambil dari sang pemilik sekaligus pendirinya yakni Haji Ma’soem. Beliau lahir di daerah Cibuyut, Tasikmalaya, Jawa Barat pada tahun 1923, yang meninggal pada tanggal 30 Desember 2001 di usianya yang ke-78 tahun. Haji Ma’soem merupakan seorang pengusaha kaliber sekaligus pendiri PT Ma’soem dan Yayasan Pendidikan Al Ma’soem. Haji Ma’soem ini adalah putra keempat dari lima bersaudara dari anak pasangan H. Soelaeman dan Kasih. Ia pernah bersekolah di Sekolah Rakyat, yang kemudian di lanjutkan ke Vervogschool di daerah Ciawi, Tasikmalaya.

Pada setiap harinya, beliau harus menempuh sejauh 16 km dengan berjalan kaki untuk mencapai sekolahnya tersebut. Sepulang dari sekolah, ia pun melanjutkan belajar di Pesantren Gereba. Sudah sejak kecil, Haji Ma’soem memang diajarkan untuk hidup mandiri. Ia pun memelihara beberapa ekor bebek untuk diambil telurnya, yang kemudian telur tersebut dijual untuk biaya sekolahnya. Setelah lulus dari sekolah Vervolgschool, Dajoen (nama asli dari Haji Ma’soem) meninggalkan desa kelahirannya untuk berjualan di daerah Cipacing yang ada di Sumedang. Tak hanya itu, Dajoen juga menyempatkan dirinya untuk menjadi buruh tani.

Di daerah Cipacing pun Dajoen tidak sendirian, melainkan tinggal bersama kakaknya yang bernama Kyai Nasihin. Pada era penjajahan Jepang, Dajoen memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya dan belajar di Pesantren Karangsambung yang dipimpin oleh K.H. Masduki. Ia pun menjadi salah satu santri yang sangat disayangi K.H. Masduki, sehingga diberi gelar dengan nama Ma’soem yang artinya “Terpelihara dari sifat buruk”. Pada tahun 1944, K.H Masduki pun menikahkan Ma’soem dengan putrinya yang bernama Aisyah.

Di awal kemerdekaan Indonesia, Ma’soem menggeluti bisnis ternak yang berupa kerbau. Ia, membeli dua sampai tiga ekor kerbau dari daerah sekitaran Ciawi, yang kemudian dijual hingga ke daerah Bandung dengan berjalan kaki. Pada tahun 1950an, desa kelahiran Ma’soem sangat mencekam sehingga ia bersama keluarganya memutuskan untuk mengungsi ke daerah Cipacing dan memulai kehidupan baru. Disana Ma’soem berjualan kerajinan tangan yang dibawa sampai ke daerah Bandung dan Jakarta. Pada masa itu, perekonomian dan kehidupan keluarga Ma’soem masih sangat sederhana. Ia pun selanjutnya memutuskan untuk berhenti dari jualan kerajinan, dikarenakan penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Ma’soem kemudian menyewa spetak warung di depan Pasar Dangdeur, Rancaekek untuk berjualan minyak tanah sebanyak 20 liter per harinya.

Seiring dengan berjalannya waktu, usaha yang dibangun Ma’soem pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga ia merambah ke bisnis armada angkutan dan pabrik tenun. Tak hanya sampai disitu saja, ia juga merintis usaha pompa bensin di Rancaekek. Pada tahun 1955, Ma’soem dan istrinya Aisyah pergi berhaji ke Tanah Suci dan mendapatkan makna dari berserah diri serta tawakal kepada Allah SWT. Pada tahun 1973, barulah berdiri PT Ma’soem yang selalu mengutamakan kejujuran kepada semua karyawannya.

Ma’soem juga mendirikan Yayasan Pendidikan Al Ma’soem, dengan tujuan untuk mendidik anak bangsa dengan slogan “Cageur- bageur-pinter”. Ia pun sangat aktif beramal dalam bidang sosial ekonomi syariah, dengan membangun masjid, mushola, serta sarana dan fasilitas umum. Bahkan yang lebih hebatnya lagi, kini Yayasan Pendidikan Al Ma’soem sudah mendirikan sebuah universitas. Nah, bagi anda yang ingin tahu tentang pendaftaran jurusan bahasa Inggris di Bandung dan jurusan pertanian di Bandung, silahkan saja cek langsung pada situs masoemuniversity.ac.id