Suami Tidak Bisa Memahamimu? Lakukanlah Cara Ini

Rina Tri Lestari, nampaknya ia telah membuat tulisan yang cukup mencabik hati para suami yang tak memahami seperti apa sosok istrinya, tak memahami apa mau istri dan bahkan enggan tahu apa yang tersembunyi di sudut hati sang istri.

Jangan jadikan aku istrimu, jika hanya karena bosan, kau pergi dan menemui perempuan lain. Kau harus tau, bahwa tak pernah terlintas wajah lelaki lain di mataku sekalipun sepanjang malam kusaksikan engkau mendengkur.

Jangan jadikan aku istrimu, jika hanya kurang nyaman engkau memilih perempuan lain sebagai tempat bercerita. Sedaangkan aku hanya memilihmu sebagai tempat bersandar dalam banyak hal.

Jangan jadikan aku istrimu, jika suatu saat hanya karena ketidakcocokan di antara kita membuatmu menjatuhkan talak dan meninggalkanku.

Jangan jadikan aku istrimu, jika engkau enggan bangun malam untuk mengganti popok anakmu, sedangkan aku telah sembilan bulan mengandung dengan segala kesulitannya.

Jangan jadikan aku istrimu, jika kau memilih pukulan untuk menasehatiku, sedangkan di saat yang sama aku tidak tuli dan masih mendengar ucapanmu.

Jangan jadikan aku istrimu, jika kau memilih bertemu teman-temanku setelah seharian bekerja. Sedang di saat yang sama aku juga lelah dengan pekerjaan rumah sampai lupa untuk sekedar menyisir rambutku.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika kau memilih menghabiskan seluruh waktumu untuk bekerja, bahkan di hari minggu sekalipun. Sedang di saat yang sama aku kesepian di rumah.

Jangan jadikan aku istrimu, jika engkau malu memperkenalkanku pada teman-temanmu. Sedang di saat yang sama aku bangga bisa hidup bersamamu. Karena pasangan bukanlah pajangan, melainkan seseorang yang membuat kita nyaman dan bahagia saat bersama.

Jangan pilih aku menjadi istrimu, jika hanya karena tubuhku yang sudah memudar dan tak langsing lagi kau mencari pengganti lain.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika kamu belum bisa menerima kekuranganku, sedangkan seiring berjalannya hari, kekuranganku akan semakin tampak dan mengikis kepercayaan dirimu.

Jangan buru-buru menjadikanku istri, jika kau berpikir pernikahan akan mencegahmu bertemu teman-temanmu, mencegahmu bersenang-senang. Sedang di saat yang sama aku disibukkan dengan kegiatan rumah tangga yang membuatku terkadang terisolasi.

Jangan buru-buru menikahiku, jika kau masih takut untuk menemui orangtuaku. Ingatlah, menikah bukan masalah umur dan angka, tapi komitmen.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika kamu berpikir akan menikah dengan perempuan lain lantaran agama tidak melarang berpoligami. Sedang di saat yang sama aku tidak ingin berbagi saat aku masih mampu melayani dan menunaikan kuwajibanku sebagi istri.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika ada perempuan lain menarik hati dan kau menyembunyikan semua dariku hanya karena kebosanan terhadap kecantikanku yang mulai memudar. Ingatlah, kecantikan bukan segalanya, karena ketulusan cinta yang kupersembahkan untukmu.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika kau berpikir bahwa dengan menikahiku separuh agamamu akan sempurna, sedangkan engkau sendiri enggan mencari ilmu. Lalu bagaimana mungkin separuh agama ini akan sempurna jika kau bahkan tak mampu memimpinku.

Jangan jadikan aku istrimu, jika kau berpikir aku wanita sempurna yang siap melayanimu dalam semua hal dan layak kau pamerkan di hadapan teman-temanmu, karena aku bukan wanita sesempurna itu. Aku perempuan biasa yang hanya punya ketulusan yang mampu kupersembahkan secara ikhlas padamu, bukan kelebihan yang kau impikan seperti wanita di luar sana.

“Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.”

Aku tidak ingin ikatan suci menuai luka, aku tak ingin rumah tangga yang susah payah kita bangun berakhir bencana. Mari, kita mulai dengan niat yang lurus hanya untuk mendapatkan Ridho-Nya, karena hanya dengan kunci itulah kebahagiaan tercipta.