Thalhah Bin Ubaidillah, Penghuni Jannah Yang Berjalan Di Atas Muka Bumi

Thalhah adalah pemuda yang menjadi harapan ibu dan kaumnya. Tetapi ternyata ia keluar dari agama moyangnya. Kaumnya pun akhirnya menyeret dan mengikatnya di bawah terik matahari, sementara ibunya mencerca dan menjelek jelekkannya. Tetapi semua itu tidak menggoyahkan keimanan Thalhah bin Ubaidillah.

Setelah bertahan selama tiga belas tahun di Makkah, akhirnya Allah memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Di Madinah Rasulullah dan para sahabat disambut dengan suka cita oleh kaum Anshar yang sebelumnya telah memeluk Islam.

Tegaknya kekuasaan Islam di Madinah membuat gerah kaum Quraisy. Maka pertempuran demi pertempuran pun terjadi. Perang pertama yang menentukan adalah perang Badar al Kubra yang dimenangkan kaum muslimin. Saat perang Badar tersebut Thalhah bin Ubaidillah tidak berkesempatan menemani Rasulullah karena beliau sedang di utus ke arah Syam untuk memata-matai musuh.

Baca juga : Inilah Mukjizat-mukjizat Nabi Muhammad SAW

Perang berikutnya adalah perang Uhud. Tujuh ratus pasukan Islam berhadapan dengan tiga ribu kafir Quraisy. Peperangan berkecamuk dengan hebatnya. Pasukan Quraisy dengan segenap jagoan dan kemarahannya menyerang untuk membalas kekalahan pada perang Badar, berhadapan dengan pasukan muslim yang merindukan syahid.

Karena pasukan panah yang berada di atas bukit tidak taat kepada Rasulullah dan ikut turun, akhirnya pasukan Islam terdesak hebat oleh kaum Quraisy. Sementara itu Rasulullah berusaha naik ke bukit diiringi tujuh pemuda Anshar, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Keberadaan Rasul diketahui kaum musyrikin, maka mereka pun berusaha mengejar dan menghabisi Rasulullah. Tetapi para pemuda Anshar tidak tinggal diam. Satu persatu mereka maju ke depan menghadang musuh sehingga mereka menemui syahidnya. Tinggallah Rasulullah ditemani Thalhah dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Sa’ad sibuk melepaskan anak panahnya menghalau pasukan musyrik, sementara itu Thalhah pun maju menyambut kedatangan kaum Quraisy.

Baca juga : Inilah Keistimewaan Do’a Nabi Yusuf

Setiap orang yang hendak mendekat Rasulullah langsung dihadang dan dibabat Thalhah. Namun ada beberapa orang Quraisy yang berhasil mencederai Rasulullah. Gigi seri beliau pecah, sementara pada pipi beliau tertancap besi dari topi besi yang beliau pakai. Bahu beliau pun terkena pukulan pedang yang sangat keras dari Ibnu Qami’ah. Rasulullah terus berusaha naik ke atas. Tetapi sisa sisa tenaga beliau semakin melemah. Thalhah segera merundukkan badan agar Rasulullah bisa naik batu melalui punggungnya. Setelah itu Thalhah kembali maju menghadapi musuh.

Saat suasana semakin genting, Abu Bakar dan Abu Ubaidah yang tadi berada pada garis depan, tiba ke hadapan Rasulullah|. Beliau memerintahkan keduanya untuk segera membantu Thalhah bin Ubaidillah. Ketika mereka berada di hadapan Thalhah, ternyata lelaki perkasa itu telah bersimbah darah.

Tidak kurang dari tujuh puluh lebih luka tombak atau panah atau sabetan pedang bersarang di tubuh lelaki yang disebut Rosul sebagai penghuni jannah yang berjalan di atas muka bumi. Jari-jari tangan beliau juga terputus saat melindungi Rasulullah dari serangan panah musuh. Tidak mengherankan jika saat disebut perang Uhud, Abu Bakar berkata, “Itu adalah hari Thalhah bin Ubaidillah.” Karena memang beliau telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Rasulullah.

Pertempuran pertempuran berikutnya tidak pernah luput dari keikut sertaan Thalhah bin Ubaidillah. Selain sebagai seorang petarung handal, Thalhah juga dikenal sebagai seorang yang dermawan.