Thariq bin Ziyad: Sang Penakluk Andalusia

Thariq bin Ziyad – Siapa yang tidak mengenal Thoriq Bin Ziyad. Ia terkenal dengan pidato luar biasa-nya yang mampu membakar semangat pasukan perangnya untuk maju sampai titik darah penghabisan. Dialah sang penakluk Andalusia atau Spanyol saat ini.

Thoriq Bin Ziyad adalah seorang panglima perang yang ditugaskan oleh Musa bin Nushair untuk memperluas kekuasaan islam dengan penaklukan-penaklukan wilayah-wilayah tertentu. Kepercayaan besar dari Musa Bin Nushair menjadikan Thoriq Bin Ziyad sebagai pemimpin pasukan.

Mereka berdua hidup pada masa Dinasti Umayyah dan memperluas penyebaran islam hingga Tanger (Maroko). Mereka terus melakukan perluasan di Maroko hingga berhenti saat terbentur benteng Sabtah (Ceuta).

Masa Kehancuran Spanyol

arrosyadi.wordpress.com
arrosyadi.wordpress.com

Pada masa itu Spanyol berada dalam kekuasaan kerajaan Visigoth yang sedang mengalami kemerosotan di akhir kekuasaannya. Kemerosotan tersebut disebabkan karena kewajiban pajak yang amat mahal. Menyengsarakan rakyat kecil, sedangkan orang-orang kaya dan pemuka agama bertambah kaya, sebab hasil dari pajak tersebut untuk menghidupkan mereka. (Baca Juga: Sa’ad Bin Abi Waqqash: Pelepas Anak Panah Surga)

Tak hanya pajak yang memberatkan, tapi juga wabah penyakit yang menewaskan banyak rakyat miskin. Sungguh lengkap sudah penderitaan rakyat kecil Spanyol masa itu. Saat itu, Spanyol dipimpin oleh raja bernama Witiza (Ghaithasyah).

Setelah kekuasaannya berakhir, ia digantikan oleh Achila. Selanjutnya kekuasaan Achila dikudeta oleh panglimanya sendiri, Roderick.Permusuhan batin sering terjadi sejak kekuasaan direbut Roderick. Salah satunya Gebernur Ceuta bernama Julian memendam kebencian pada Roderick, disebabkan karena putri Julian telah dinodai oleh Roderick.

Merasa tak memiliki kekuasaan di masa itu, sedangkan kebencian telah nyaris meledakkan hati Julian, maka Julian menemui Musa Bin Nushair untuk menyerang Spanyol. Julian dengan gamblang melukiskan bagaimana lemahnya kekuasaan pemerintahan Spanyol saat itu, sehingga mudah untuk digulingkan.

Bahkan Julian berjanji akan membantu pasukan Muslimin dalam penaklukan tersebut. Gubernur Musa Bin Nushair segera menyampaikan permintaan Julian pada Khalifah Al-Walid. Namun Khalifah masih ragu akan melakukan penyerangan secara mendadak. Maka Al-Walid pun memerintahkan Musa Bin Nushair untuk mempelajari kekuatan dan kelemahan Spanyol. ( Baca Juga: Khalid Bin Walid: Pedang Allah yang Terhunus)

Upaya Penaklukan Spanyol

tarbawiyah.com
tarbawiyah.com

Musa Bin Nushair mengutus Thaif Bin Malik dengan 500 pasukan untuk menyerang perbatasan Spanyol dibantu oleh Julian. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan setelah mereka yakin akan hilangnya sarana pertahanannya Spanyol. (Baca Juga: Muhammad Al-Fatih: Panglima Perang Penakluk Konstatinopel)

Tak berhenti di sana, pada bulan Sya’ban tahun 92 H sejumlah 7000 pasukan Muslimin yang dipimpin Thoriq Bin Ziyad menyeberang laut menuju Spanyol dengan bantuan empat armada kapal yang telah dipersiapkan oleh Julian. Thoriq bersama pasukannya sampai di Jazirah Al-Khadhra’ (Algeciras).

Mereka singgah di daerah Buhairah atau Spanyol bagian selatan. Kedatangan Thoriq bersama pasukannya mendapat respon dari Roderick dengan menyiapkan 70.000 pasukan yang siap melawan pasukan Muslimin. Jumlah pasukan yang berbeda membuat Thoriq mengutus salah seorang pasukannya untuk meminta bantuan Musa Bin Nushair.

Mengetahui keadaan tersebut, maka Musa Bin Nushair pun segera mengirim 5000 pasukan, sehingga jumlah pasukan di bawah kepemimpinan Thoriq sebanyak 12.000 orang. Namun jumlah tersebut tak sebanding dengan jumlah pasukan lawan yaitu 70.000 orang, dan pasukan Muslimin mulai ketakutan.

Namun berbeda dengan Thoriq yang justru kian terbakar api jihad. Melihat pasukannya yang kian ciut, Thoriq berpidato lantang di depan 12.000 pasukannya.“Wahai sekalian manusia, ke mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian, musuh di hadapan kalian.

Sungguh keberadaan kalian di semenanjung ini lebih sempit daripada keberadaan anak yatim di tengah-tengah perjamuan orang-orang jahat. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali keikhlasan dan kesabaran. Musuh-musuh kalian sudah siaga, di depan dengan persenjataan mereka.

Kekuatan mereka, besar sekali, sementara, kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang-pedang kalian, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Ketakutan mereka terhadap kalian akan berubah menjadi keberadaan terhadap kalian.

Pidato tersebut mengobarkan kembali semangat pasukan Muslimin, mereka yakin dan dengan mematuhi pimpinan mereka, maka mereka pasti akan menang.

Perang Penaklukan Spanyol (Andalusia)

kammiibnuhayyan.wordpress.com
kammiibnuhayyan.wordpress.com

Pertempuran dua kubu pun dimulai. Kekuatan tidak seimbang terjadi, akan tetapi pasukan Muslimin tetap teguh untuk tidak lari dari perang sebelum kemenangan diperoleh. Sedangkan Thoriq dan Roderick bertemu di lembah Lakkah. Dalam peperangan ini Roderick berhasil terbunuh.

Salah satu sebab kemenangan dari pasukan Muslimin adalah karena bantuan dari anak-anak Witiza (mantan raja Spanyol) yang membantu pasukan Thoriq. Selain itu gubernur Julian juga telah berhasil mengambil hati sebagian dari pasukan Roderick, sehingga terjadilah perpecahan dalam pasukan Roderick, dan membuat kelemahan pasukan ini kian nampak. (Baca Juga: Salahudin Al-Ayubi: Singa Perang Salib)

Dan kemenangan ini pun tak akan diperoleh andai pasukan Muslimin lari dan tak mematuhi perintah Thoriq.Atas kemenangan tersebut, Thoriq segera mengirim berita pada Musa Bin Nushair. Namun Musa Bin Nushair justru memerintahkan Thoriq untuk menghentikan peperangan berikutnya.

Perintah tersebut bagi Thoriq bukanlah keputusan yang bagus, ia sebagai pemimpin lebih takut jika pasukan lawan menyusun kekuatan dan balas dendam. Oleh sebab itu Thoriq bersama pasukan Muslimin tetap melanjutkan penaklukan demi penaklukan, sampai akhirnya mereka menguasai Barcelona, Arbunah (Narbonne), dan Cadiz.

Tepat saat Musa Bin Nushair tiba di Andalus, dan Thoriq Bin Ziyad pun dipecat atas tindakannya tersebut. Namun Thoriq berusaha menjelaskan duduk permasalahannya pada Khalifah Walid. Mengingta Khalifah Walid adalah orang yang adil, maka Kalifah Walid pun meminta Musa Bin Nushair untuk mengembalikan Thoriq di posisi semula.

Kisah Thariq Bin Ziyad