Utsman Bin Affan: Pemilik Dua Cahaya

Utsman Bin Affan – Utsman bin Affan adalah Khalifah ketiga setelah Umar bin Khatab. Ia terpilih dari empat calon pengganti yang ditunjuk oleh Umar Bin Khatab.

Dzu Nurain (Pemilik Dua Cahaya)

Rosulullah memberi julukan pada Utsman yaitu pemilik dua cahaya. Julukan ini ia terima lantaran Utsman telah menikahi dua anak Rosulullah yaitu Ummu Kultsum, dan Ruqayah. Utsman juga dikenal sebagai pedagang kaya dan ekonom handal yang dermawan.

Utsman termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Ia merupakan sosok yang pemalu. Dalam sebuah hadits dijelaskan,

Orang yang paling penyayang di antara umatku adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui tentang halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling hafal tentang Alquran adalah Ubay (bin Ka’ab), dan yang paling mengetahui ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat mempunyai seorang yang terpercaya, dan orang yang terpercaya di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya 3:184)

Sosok yang Dermawan

blokbojonegoro.com
blokbojonegoro.com

Saat Perang Tabuk, Utsman mendermakan 950 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1000 dirham sumbangan pribadi untuk perang Tabuk, atau sepertiga dari biaya perang tersebut. tak hanya sumbangan harta yang berlimpah untuk silam, Utsman juga membeli mata air yang bernama Rumah dari seorang lelaki suku Ghifar seharga 35.000 dirham. Mata air tersebut kemudian disumbangkan untuk kepentingan rakyat umum yang membutuhkan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Utsman pernah menyumbangkan 1000 unta untuk membantu rakyat miskin.

Kekhalifahan Utsman Bin Affan

mencarijalanmenujuislam.blogspot.com
mencarijalanmenujuislam.blogspot.com

Setelah menduduki kursi kekhalifahan sepeninggal Umar Bin Khatab, Utsman melakukan banyak perubahan, salah satunya yaitu pengangkatan Amir-amir wilayah hanya dari kalangan keluarganya, yaitu Bani Umayah. Kebijakan tersebut cukup memberi pengaruh pada tatanan kepemerintahan. Banyak yang menolak, bahkan sempat terjadi pergolakan politik saat pemindahan posisi Amir, seperti pergantian kedudukan Sa’id Bin Ash dengan Abu Musa Al-Asy’ari. (Baca Juga: Abu Ubaidah Bin Jarrah: Sang Pemegang Kepercayaan)

Pengangkartan Amir ini menjadi pergulatan yang cukup sengit. Mereka menganggap Utsman terlalu berlebihan dalam mengutamakan keluarganya sebagai Amir. Akhirnya Abdullah Bin Saba mencoba mempengaruhi pihak-pihak tertentu untuk memaksa Utsman Bin Affan meletakkan kekuasannya. Salah satu pihak yang dipengaruhi adalah Ali Bin Abi Thalib. Ia meminta Ali untuk mengingatkan Utsman seputar pengangkatan Amir yang dirasa kurang berkenan. Namun Utsman tetap pada pendiriannya, dan hal ini memicu tragedi berdarah di Madinah.

Keadaan Semakin Memanas

hukumceplos.blogspot.com
hukumceplos.blogspot.com

Sikap Utsman Bin Affan memancing reaksi semakin keras dari berbagai pihak. Begitu banyak posisi Amir di beberapa daerah yang diganti dengan keluarga Utsman. Tokoh tua digantikan dengan tokoh muda dari keluarga besar Utsman. Bahkan Utsman juga dinilai membuat kebijakan yang menguntungkan keluarga atau keturunannya, Bani Umayah, dan hal ini nampaknya merugikan masyarakat dan negara. Masyarakat yang kecewa atas keperintahan Utsman mulai bertindak tidak rasional lagi.

Tragedi Berdarah di Madinah

alam.uniknya.com
alam.uniknya.com

Kondisi sudah tak mampu dirubah lagi. Mereka yang masuk dalam golongan kecewa mulai bertindak beringas. Fitnah begitu cepat menjalar dan mengumpulkan golongan penentang Utsman semakin banyak. Pada bulan Dzulqa’dah 35H/656M, sebanyak 500 orang yang berangkat ke Madinah mengepung rumah Utsman.

Beberapa sahabat mencoba menahan pemberontak yang memaksa masuk kediaman Utsman. Termasuk Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Thalhah, Abdullah bin Zubair, dan lainnya. Mereka menjaga pintu masuk kediaman Utsman dengan pedang terhunus yang siap menebas siapa saja yang mencoba masuk. Namun pemberontak yang tak sedikit jumlahnya, membuat pertahanan para sahabat lemah, dan beberapa dari mereka berhasil masuk kediaman Utsman. (Baca Juga: Bilal Bin Rabah: Muazzin Pertama Rasulullah)

Dengan beringas bak serigala yang menemukan mangsa. Para pemberontak masuk dan membunuh Utsman yang tengah membaca Al-Quran. Sedangkan istrinya Utsman, Nailah, ia mencoba menghalangi sampai jari-jari tangannya tertebas pedang. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Nailah selain merelakan bahwa sang suami telah syahid dalam pembunuhan keji tersebut. Khalifah Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H. Ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

Video Utsman Bin Affan